Pendapat Para Pakar terhadap Ledakan Ulat Bulu

 Serangan ulat bulu beberapa waktu terakhir ini menjadi berita utama di tanah air dan menjadi isu nasio-nal, ulat ini menyerang tanaman mangga di Probolinggo, Jawa Timur dan di beberapa daerah lokasi lainnya antara lain Bekasi, Jombang, Kendal, Banten, Jakarta, Sumatera, Bali, Kalimantan, Mojokerto, Jombang, Malang, Kendal dan akhir-akhir ini di Pacitan. Hasil identifikasi LIPI terdapat empat jenis ulat bulu yang menyerang di Probolinggo dan Yogyakarta yaitu Arctornis riquata yang paling dominan dan sudah dicatat sejak 1984, Hymantria Beatrix, Spahraegidus virguneula dan Orygya postica (Bambang Prasetya, 2011), sedangkan menurut Agus Kardinan pakar ento-mologi dari peneliti hama Balittro ulat yang mendominasi di Probolinggo adalah dari keluarga Lymantriidae, dengan dua spesies yang dominan yaitu Arctornis submarginata dan Lymantria marginata, namun dari kedua spesies ini terdapat satu spesies yang  unik dan merupakan spesies khas dan spesifik Probolinggo (hingga saat ini belum ditemukan di wilayah lain), yaitu Arctornis submarginata.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa hasil identifikasi ulat bulu yang menyerang umumnya dari keluarga Lymantriidae. Menurut Deciyanto pakar entomologi Puslitbangbun Bogor menyatakan ulat ini umumnya menyerang banyak tanaman tahunan dan semak, meskipun juga dapat hidup pada tanaman bukan inangnya tetapi tidak mampu berkembang de-ngan baik. Dari keluarga ulat lain yang juga berbulu dan dila-porkan ditemui ada di bebe-rapa daerah adalah Arctiidae yang ditemukan di pohon kenanga (Maenas maculifascia Walker) dan Cricula trifenestrata (Saturniidae) pada pohon jambu mete dan kedondong. Peneliti pakar serangga jurusan hama dan penyakit tumbuhan fakultas pertanian UGM menya-takan terdapat dua jenis spesies ulat bulu yang menye rang pohon mangga di Probo-linggo, yaitu Arctornis sp. dan Lymantria atemeles Collenette. Keduanya menyerang pohon mangga jenis manalagi. Dua spesies itu berbeda. Arctornis sp hanya punya satu antena  di kepala, tetapi tidak mem-punyai racun penyebab gatal-gatal. Adapun Lymantria ate-meles mempunyai dua antena di kepala dengan pola seperti berlian di punggung serta bercak biru di sekujur tubuh yang mengeluarkan racun pe-nyebab gatal-gatal. Prof. Aunu Rauf dari IPB mengatakan, jenis ulat yang menyerang ta-naman mangga di Probolinggo, Jawa Timur tidak menimbulkan gatal. Ulat ini hanya menimbulkan gatal ringan pada mereka yang memiliki alergi terhadap bulu dan kulit yang peka. Jenis ulat ini berbeda dengan ulat api (uler srengenge, uler geni) yang menimbulkan gatal, panas dan bengkak di kulit. Berikut beberapa pendapat para pakar terjadinya ledakan hama ulat bulu dan teknik pengendaliannya.

Ledakan Populasi Ulat Bulu

Dua hal yang penting yang saling berkaitan mempengaruhi populasi adalah iklim/cuaca  dan persaingan dalam kehi-dupan serangga. Iklim/cuaca adalah faktor abiotik yang dapat langsung dan tidak langsung mempengaruhi populasi, tetapi bukan sebagai pengatur populasi. Secara langsung, kondisi cuaca seperti suhu dapat berpengaruh terhadap mortalitas, keperidian dan laju pertumbu-han serangga, sedangkan secara tidak langsung iklim berpengaruh terhadap kehidupan tanaman inang dan musuh ala-mi serangga yang kemudian faktor biotik ini mempengaruhi laju kelahiran dan mortalitas serangga (Deciyanto S., 2011). Pendapat lain Menteri Lingkungan Hidup (LH) Gusti Muhammad Hatta menyatakan fenomena ulat bulu yang terjadi di Kulonprogo, Probolinggo hingga Jakarta dan daerah lainnya disebabkan penurunan predator dan perubahan iklim. Sedangkan menurut Bambang Prasetya Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan rusaknya ekosistem dan cuaca yang mendukung dapat me-nyebabkan ledakan populasi ulat bulu. Hal senada disampaikan oleh ahli serangga LIPI, Rosichon Ubaidillah mengatakan ledakan ulat bulu meru-pakan fenomena ekosistem sudah berubah tanpa pemulihan kondisi alam sehingga serangan sejenis akan berulang. Hasil riset para peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menunjukkan bahwa siklus pertumbuhan ulat bergeser. Siklus dari pupa menjadi ngengat yang biasanya butuh waktu lebih dari sembilan hari kini empat hari, pergeseran siklus ini diperkirakan karena minimnya musuh alami ulat bulu dan naiknya temperatur udara. Menurut Johan Iskandar, ahli burung (ornitolog) tingginya intensitas perburuan hingga penggunaan pestisida menyebabkan burung sulit berkem-bang biak dan mati. Johan mengatakan secara umum popu-lasi berbagai macam burung di pulau Jawa termasuk burung pemakan serangga dan ulat jauh berkurang hal ini dise-babkan curah hujan tinggi dan udara lembab adalah waktu yang tepat bagi ulat untuk berkembang biak. Di sisi lain populasi burung semakin ber-kurang. Pendapat lain diungkap oleh Agus Kardinan menya-takan bahwa ledakan ulat bulu terjadi karena adanya perubahan ekosistem dengan mening-katnya CO2 di alam dan meningkatnya temperatur, dilihat dari data bahwa CO2 dan temperatur meningkat menyebabkan siklus hidup memendek. serta perubahan ekstrim musuh alami yang belum siap menyerang hama karena cepat-nya populasi ulat. Pendapat ini senada diungkap oleh I Wayan Laba pakar ulat bulu di instansi yang sama menyatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan apabila CO2 tinggi maka protein rendah sehingga ulat mengkonsumsi makanan lebih ba-nyak dan siklus hidup ulat lebih cepat. Menurut Buchori D. dari Departemen Proteksi Tanaman IPB menyatakan bahwa dampak perubahan iklim pada per-tanian Indonesia dapat menyebabkan peledakan hama dan penyakit, selain itu naiknya temperatur mempengaruhi siklus hidup yaitu semakin tinggi suhu semakin cepat siklus hidup sehingga populasi hama meningkat. Suputa yang juga seorang dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM, menduga ledakan ulat bulu disebabkan beberapa faktor yaitu faktor pembatas ulat bulu ada dua macam, yaitu faktor dependence dan faktor independence. Faktor dependence meliputi kelaparan, penyakit, serangan parasitoid dan predator. Sedangkan, faktor independence disebabkan karena naiknya suhu udara yang mempercepat siklus hidup ulat bulu,” Keanekaragaman pendapat para pakar nampaknya pengarah pada perubahan iklim menjadi penyebab utama terjadinya ledakan populasi ulat bulu akhir-akhir ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *