PENGENDALIAN PENYAKIT BUDOK PADA TANAMAN NILAM DENGAN MENGGUNAKAN AGENSIA HAYATI

PENGENDALIAN PENYAKIT BUDOK PADA TANAMAN NILAM DENGAN MENGGUNAKAN AGENSIA HAYATI

Sukamto, Dono Wahyuno, Zulhisnain

ABSTRAK

Tanaman nilam merupakan tanaman tropik yang banyak dibudidayakan di Indonesia, dan lebih dari 80% dari produksi minyak dunia di pasok dari Indonesia. Masalah utama dalam budidaya nilam di Indonesia adalah belum ada varietas tahan terhadap penyakit, adanya serangan hama dan penyakit, dan terjadi alelopati. Beberapa penyakit telah dilaporkan dan menjadi masalah di Indonesia antara lain penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum), nematoda dan penyakit budok. Sampai saat ini varietas tahan terhadap penyakit khususnya budok belum ditemukan. Masalah penyakit, terjadinya alelopati dan belum tersedianya varietas yang tahan penyakit akan berpengaruh terhadap produksi nilam baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk meningkatkan dan pengembangan agribisnis nilam diperlukan beberapa program khususnya yang dapat meningkatkan produktivitas dengan varietas yang berproduksi tinggi dan tahan penyakit, teknologi pengendalian OPT, dan teknik mereduksi pengaruh negatif dari alelopati. Untuk meningkatkan produksi sampai potensi tanaman nilam 300-400 kg/hadiperlukan beberapa kegiatan diantaranya pengendalian penyakit budok >70% pada tanaman nilam dengan agensia hayati.

Pembuatan formula agensia hayati dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman. Agensia hayati Micrococcus sp. dan Bacillus sp. dapat diformulasikan dalam bentuk granuler yaitu dengan bahan pembawa zoelite dan kapur. Populasi agensia hayati (Micrococcus sp. dan Bacillus sp.) pada semua formulasi masih tinggi yaitu 1 x 107 koloni per gram formulasi sampai pada 4 minggu setelah inkubasi. Penelitian teknik pengendalian penyakit budok dengan menggunakan beberapa komponen dilakukan dilapang yaitu di desa Sumurwiru, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan yang merupakan daerah endemik penyakit budok. Perlakuan terdiri dari 1)  Agensia hayati Micrococcus sp. 2). Agensia hayati Pseudomonas sp., 3). Agensia hayati Trichoderma sp. 4). Micrococcus sp. + Trichoderma sp., 5). Pseudomonas sp. + Trichoderma sp., 6). Terusi + Kapur Tohor, 7). Minyak cengkeh dan seraiwangi, dan 8) Fungisida (bahan aktif benomil). 9) Kontrol.

Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan fungisida (bahan aktif benomil), persentase penekanan 57,33 %. Agensia hayati Micrococcus sp (AKT-7) dapat menekan penyakit budok lebih baik dibandingkan agensia hayati lainnya dengan persentase penekanan 47,00%.. Pengendalian penyakit budok dengan agensia hayati pada daerah endemik berat dan hujan yang terus menerus sepanjang tahun tidak dapat menekan serangan budok >70%, sehingga SOP pengendalian pada lahan berat harus lebih intensif.

Kata kunci : penyakit budok, nilam, agensia hayati

ABSTRACT

Patchouli is a tropical crop plants are widely cultivated in Indonesia, and more than 80% of world oil production in supply from Indonesia. The main problem in patchouli cultivation in Indonesia are no varieties resistant to disease, the presence of pests and diseases, and Occurs alelopati. Several diseases have been reported and a problem in Indonesia, such as, bacterial wilt disease (Ralstonia solanacearum), nematodes and budok diseases. To date varieties resistant to diseases especially budok not been found. Disease problems, the unavailability of alelopati and disease resistant varieties That will affect the production of patchouli both in quantity and quality. To Enhance the development of agribusiness and patchouli take some courses in particular That can Improve productivity with a variety of high production and disease resistance, pest control technologies, and techniques to Reduced the negative influence of alelopati. To increase of the potential for crop production until patchouli 300-400 kg / hadiperlukan Several activities including disease control budok> 70% in patchouli plants with biological agents

Making formula biological agents conducted at the Laboratory of Plant Diseases. Biological agents Micrococcus sp. and Bacillus sp. can be formulated in granular form that is with the carrier materials zoelite and lime. Population biological agents (Micrococcus sp. And Bacillus sp.) On all formulations are still high at 1 x 107 colonies per gram of the formulation until at 4 weeks after incubation. Research budok disease control techniques by using some components made in the village Sumurwiru dilapang namely, District Cibeureum, Kuningan District, which is endemic areas budok disease. The treatment consisted of 1) biological agents Micrococcus sp. 2). Biological agents Pseudomonas sp., 3). Biological agents Trichoderma sp. 4). Micrococcus sp. + Trichoderma sp., 5). Pseudomonas sp. + Trichoderma sp., 6). Terusi + calcium oxide, 7). Clove oil and seraiwangi, and 8) Fungicide (active ingredient benomil). 9) Control.

The study was conducted by randomized block design. The results showed that the use of fungicides (active ingredients benomil), percentage of 57.33% suppression. Micrococcus sp biological agents (AKT-7) can suppress the disease budok better than other biological agents with an emphasis percentage 47.00% . Budok disease control with biological agents in an endemic area heavy and continuous rain throughout the year can not press the attack budok> 70%, so that the SOP control on heavy land should be more intensive.

Keyword : budok disease, patchouli, biological agents.

Download Full Text 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *