• Kawasan Wisata Ilmiah
    Kawasan Wisata Ilmiah

    "Mempertahankan warisan nusantara sebagai wisata berkonsep lmiah dan atristik" [ Selengkapnya... ]

     
  • Laboratorium Pengujian
    Laboratorium Pengujian

    Lab. Penguji Terakreditasi BAN-KAN  LP-256 IDN didukung tenaga Profesional yang handal serta fasiilitas yang memadai  [ Selengkapnya...]

     
  • Kunjungan DPR D Komisi 3 Kab. Lebong, Bengkulu. K
    Kunjungan DPR D Komisi 3 Kab. Lebong, Bengkulu. K

Agenda

  •   April 2014
    April 2014

    Kunjungan delegasi Malaysia studi banding pengembangan tanaman rempah dan obat

Fasilitas

  • Alat destilasi
    Alat destilasi

    Alat destilasi minyak atsiri skala laboratorium

  • Koleksi tan. Obat
    Koleksi tan. Obat
    Koleksi plasmanutfah tanaman rempah dan obat dipadukan ...
  • Gedung Pertemuan
    Gedung Pertemuan
    Balittro didukung dengan fasilitas aula yang besar,

MANAJEMEN PEMUPUKAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) DALAM UPAYA PERTANIAN BERKELANJUTAN

Nilam (Pogostemon cablin Benth) tumbuh dan berproduksi baik pada tanah yang subur, gembur, dan banyak mengandung bahan organik. Jenis tanah yang baik adalah regosol, latosol, dan aluvial. Tekstur tanahnya liat berpasir atau liat berdebu dan mempunyai daya resapan yang baik dan tidak tergenang air pada musim hujan. Untuk menghasilkan daun nilam dengan kandungan minyak yang tinggi diperlukan sinar matahari penuh. Menurut Rosman peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dalam buku Monograf Nilam (1998), ketinggian tempat yang sesuai untuk budidaya nilam mulai dataran rendah sampai ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl), dan optimum pada 100-400 m dpl. Di dataran rendah, kadar minyak lebih tinggi daripada didataran tinggi, sebaliknya kadar patchouli alkohol lebih rendah. Curah hujan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman nilam berkisar 2300 - 3000 mm /tahun dengan penyebaran yang merata sepanjang tahun. Kelembapan udara, suhu, dan pH yang sesuai untuk pertumbuhan nilam masing-masing 70-90%, 24-28oC, dan 5.5-7.

 

Data Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) memperlihatkan bahwa nilam diusahakan oleh lebih dari 65.000 petani dengan luasan lahan 24.718 ha yang tersebar di beberapa provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur serta Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Nilam dikenal sebagai tanaman y a n g s a n g a t r e s p o n s i f t e r h a d a p pemupukan. Menurut Dhalimi dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dalam buku Monograf Nilam (1998), serapan unsur hara pada nilam tergolong cukup tinggi, yaitu N 5,6%, P2O5 4,9%, K2O 2,8%, CaO 5,3%, dan Mg 3,4%. Dengan rata-rata produksi bahan kering 4 ton/ha/tahun, unsur hara yang terangkut masing-masing sebanyak 232kg N, 196 kg P2O5, 120 kg K2O, 212 kg Ca dan 135 kg Mg. Tingginya unsur hara yang terangkut setiap panen dan biomas yang hampir tidak pernah dikembalikan ke tanah menyebabkan produktivitas menurun. Untuk menjaga agar budi daya nilam berkelanjutan maka pemupukan pada budi daya nilam perlu mendapat perhatian khusus . Manajemen pemupukan yang sudah diterapkan pada tanaman padi yang dikenal dengan istilah 5 T yaitu tepat waktu, tepat dosis, tepat jenis, tepat cara, dan tepat tempat pantas dipertimbangkan pada tanaman nilam.

Read more...

Konsorsia Mikroba Menekan Penyakit BPB Di Lapang, dan Jamur-Jamur Endofit Untuk Memperkaya Konsorsia Mikroba

  Penelitian yang dilakukan pada pertanaman lada yang telah diberi perlakuan tunggal maupun kombinasi beberapa mikroorganisme bermanfaat menunjukkan perlakuan Trichoderma yang menunjukkan tanaman mati yang paling rendah, dan jumlah tanaman lada yang mati lebih 20% lebih rendah dibanding perlakuan kontrol. Hasil uji secara statistik juga menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara perlakuan Trichoderma dengan yang lainnya. Perlakuan P. Fluorescen tunggal, maupun setelah dikombinasi dengan Trichoderma dan mikoriza tidak menunjukkan penekanan kejadian busuk pangkal batang yang lebih tinggi dibanding kontrol.

Hasil pengujian efektivitas antar perlakuan yang dibandingkan dengan kontrol, perlakuan Trichoderma menunjukkan penekanan yang relatif stabil di tiap bulan pengamatan (Gambar 2).

Hasil pengamatan populasi mikroba pada setiap perlakuan menunjukkan adanya pola yang relatif sama setiap parameter mikroba yang diamati. Populasl mikroba yang diamati (Trichoderma, total jamur dan total bakteri) berada diantara bulan Maret dan April 2013 (Gambar 2, 3, dan 4).

Reinfestasi (pemberian inokulum tambahan) menjelang akhir musim hujan menunjukkan adanya kenaikan populasi khususnya pada antara bulan April dan Mei. Pengamatan lebih lanjut, populasi total bakteri dan jamur juga menurun dan cenderung datar selama musim kemarau; dan meningkat lagi seiring musim hujan.  Hasil yang lain ditunjukkan pada populasi Trichoderma yang cenderung terus menurun meskipun pengamatan dilakukan di awal musim hujan (September dan Oktober 2013) . Hasil yang diperoleh saat ini mengindikasikan bahwa mikroba yang diinokulasikan di pembibitan dan efektif mampu menekan kejadian BPB pada bibit lada, tidak menunjukkan performa yang sama saat diaplikasikan di lapang. 

Read more...

Tanaman Obat “Eksotik” Ramaikan HPS di Makasar

Makasar, 6-11 Nopember 2014 – Hari Pangan Sedunia ke-34 dan Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N) ke-7 tahun 2014 diselenggarakan di Makassar (6-11 Nov’14). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) ikut berpartisipasi melalui gelar teknologi, dan pameran dengan menampilkan berbagai varietas, komoditas unggul, hasil pascapanen (jagung, sagu dan sorgum), varietas buah dan sayur, jamu herbal aromatic, tanaman  obat “eksotik”, dan tanaman hias.

Pameran HPS ke-34 Tahun 2014 ini bertemakan “ Pertanian Bioindustri Berbasis Pangan Lokal Potensial” untuk tingkat Nasional dan “Family Farming : Feeding The World Caring For The Earth” untuk tema Internasionalnya. Dalam peringatan HPS ke -34 dan PF2N ke-7 ini dihadiri oleh Ibu Mufidah Yusuf Kalla. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Yusup Kalla (JK) yang tak bisa menghadiri langsung pembukaan acara ini. Pembukaan secara simbolis acara ini dilakukan dengan pemukulan gong oleh Ibu Mufidah Yusuf Kalla ditemani Gubenur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.

Gubenur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, dalam sambutan pada pembukaan HPS dan PF2N mengatakan bahwa Pertanian saat ini telah mampu menjanjikan kehidupan bagi rakyat serta pendapatan yang baik untuk kehidupan masa depan. Acara ini merupakan dua event besar dalam waktu bersamaan dari tanggal 6-11 Nopember 2014 yang dipusatkan di Taman Maccini Sombala, Makasar.

Read more...

BENIH BERMUTU LADA: AWAL SUKSES KEBERHASILAN

Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu jenis rempah yang paling penting diantara rempah-rempah lainnya (Kingof Spices), baik ditinjau dari segi perannya dalam menyumbangkan devisa negara maupun dari segi kegunaannya yang sangat khas dan tidak dapat digantikan dengan rempah lainnya. Indonesia memiliki peran yang sangat penting dengan kemampuan memasok sekitar 80% dari kebutuhan lada dunia sebelum Perang Dunia II. Bahkan sampai tahun 2000 Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil utama lada dan mempunyai peranan penting dalam perdagangan lada dunia. Namun saat ini tergeser oleh kegigihan Vietnam dan Brasil dalam mengembangkan tanaman lada yang sangat intensif.

Di Indonesia, sentra tanaman lada banyak terdapat di provinsi Bangka Belitung, Lampung, dan Kalimantan. Namun tak banyak yang mengetahui tanaman lada saat ini mulai berkembang di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Purbalingga. Menurut Bapak Yogya ketua Asosiasi Petani Lada Purbalingga (ASPALAGA) desa Kedarpan, kecamatan Kejobong, kabupaten Purbalingga, tanaman lada di Purbalingga mulai ditanam sejak tahun 1985 yang di bawa dari Lampung oleh seorang transmigran  yang sedang pulang kampung. Pada saat ini tanaman lada di Purbalingga berkembang di 3 kecamatan yaitu  Kejobong, Kaligondang dan Pengadegan, bahkan banyak terdapat juga di kabupaten Banjarnegara, dengan luas areal mencapai 456 ha dengan produksi 652 ton per tahun. Produktivitas lada di Purbalingga masih rendah dengan rata-rata 1 – 2 kg per pohon/tahun.

Read more...

Lab. Pengujian

 

Sistem manajemen laboratorium mengacu ISO/IEC17025:2005