KANDUNGAN KURKUMIN RIMPANG TEMULAWAK PADA TIGA TINGKAT UMUR PANEN DAN SISTEM PEMUPUKAN BERBEDA

KANDUNGAN KURKUMIN RIMPANG TEMULAWAK PADA TIGA TINGKAT UMUR PANEN DAN SISTEM PEMUPUKAN BERBEDA

Oleh : Retno Utami Hatmi dan Febrianty

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta

Jalan Stadion Maguwoharjo No. 22 Ngemplak Sleman Yogyakarta

tamibptp@yahoo.co.id

ABSTRAK

Pada tahun 2010, Balittro bekerja sama dengan BPTP Yogyakarta melakukan introduksi varietas temulawak, yaitu Cursina 1 dan Cursina 2 di Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. Pengkajian ini bertujuan mengetahui variasi kandungan kurkumin rimpang temulawak pada tiga tingkat umur panen dengan sistem pemupukan yang berbeda. Varietas temulawak yang digunakan adalah Cursina 1 dan Cursina 2 dengan umur panen empat, enam, dan delapan bulan. Kedua varietas tersebut ditanam dengan menggunakan sistem pemupukan organik penuh dan semi organik. Kandungan kurkumin dianalisa di laboratorium dan diuji secara statistik menggunakan metode One Way Anova. Hasil analisa menunjukkan bahwa pada rimpang temulawak Cursina 1 dengan sistem semi organik, kandungan kurkuminnya semakin tinggi dengan meningkatnya umur panen (0,19; 0,47 dan 0,87%); sedangkan dengan sistem organik penuh, kurkuminnya cukup stabil (0,44; 0,40 dan 0,48%). Pada saat umur panen enam bulan, kandungan kurkumin temulawak Cursina 2 baik dengan sistem organik penuh maupun semi organik meningkat menjadi 0,80 dan 0,83%, tetapi menurun menjadi 0,73 dan 0,53% pada saat umur panen delapan bulan.

Kata kunci: Cursina 1, Cursina 2, kurkumin, sistem pemupukan, umur panen

Download full papper 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *