PENGELOLAAN HARA SAYURAN PADA SISTEM PERTANIAN ORGANIK

PENGELOLAAN HARA SAYURAN PADA SISTEM PERTANIAN ORGANIK

Oleh : Wiwik Hartatik dan Diah Setyorini

Balai Penelitian Tanah
Jalan Tentara Pelajar No. 12, Cimanggu, Bogor

Wiwik_hartatik@yahoo.com

ABSTRAK

Dalam upaya peningkatan produktivitas sayuran, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan maka pengelolaan hara dalam memenuhi kebutuhan hara sayuran perlu dilakukan. Tujuan penelitian mendapatkan teknologi pengelolaan hara terpadu untuk sayuran organik dan mengevaluasi perubahan sifat kimia dan biologi tanahnya. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang dicobakan sebagai berikut (1) Pukan ayam 10 t/ha + arang sekam 500 kg/ha, (2) Pukan ayam 10 t/ha + arang sekam 500 kg/ha + hijauan kirinyu 5 t/ha, (3) Pukan ayam 10 t/ha + hijauan Tithonia 5 t/ha + kompos sisa tanaman 1 t/ha, (4) Pukan ayam 10 t/ha + hijauan Tithonia 5 t/ha + kompos batang pisang 1 t/ha, (5) Pukan ayam 10 t/ha + hijauan Tithonia 5 t/ha, (6) Pukan ayam 10 t/ha, dan (7) Pukan kambing 10 t/ha + arang sekam 500 kg/ha dan Kontrol (pukan ayam 25 t/ha). Lahan yang digunakan adalah lahan sayuran organik di Permata Hati Farm, Desa Tugu Utara, Kec. Cisarua, Kab. Bogor, Jawa Barat (06o40’31,6” LS dan 106o57’24,7” BT). Penelitian dilakukan pada MT 2008. Ukuran petak 1 x 10 m. Pertanaman kesatu berupa tumpangsari bawang daun dengan bunga kol dan pertanaman kedua tumpangsari Caisim dan wortel. Pengamatan sifat kimia tanah meliputi pH, C-organik, N-total, P dan K (ekstrak HCl 25%), P tersedia (ekstrak Bray I), kation dapat ditukar (Ca, Mg dan K), kejenuhan basa (KB), hara mikro (Fe, Mn, Cu dan Zn) (ekstrak DTPA). Pengamatan sifat biologi tanah yaitu total bakteri, C-mic, dan respirasi tanah. Pengamatan agronomis tinggi tanaman dan produksi. Pupuk organik diberikan sebelum tanam pada lubang tanam, sedangkan pupuk hijau disebarkan di permukaan tanah kemudian diaduk dengan tanah pada lapisan olah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama dua kali pertanaman terjadi peningkatan C-organik dan penurunan basa-basa dapat ditukar walaupun secara uji statistik tidak berbeda nyata. Pada awal penelitian respirasi tanah dan C-mic cukup tinggi, tetapi terjadi penurunan setelah penanaman I dan II. Perlakuan pukan ayam + arang sekam + kirinyu (MT I) dan pukan ayam + arang sekam (MT II) memberikan nilai C-mic lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Total bakteri dan respirasi tanah pada MT II yang tinggi dicapai oleh perlakuan pukan ayam + hijauan Tithonia. Pada penanaman I tumpangsari bawang daun-bunga kol menunjukkan bahwa produksi bawang daun yang tinggi dicapai oleh perlakuan pukan ayam 10 t/ha sebesar 7,80 t/ha dan kombinasi pukan kambing (10 t/ha) + arang sekam (500 kg/ha) sebesar 7,1 t/ha. Sedangkan perlakuan pukan ayam (10 t/ha) yang dikombinasikan dengan hijauan Tithonia (5 t/ha) + kompos sisa tanaman (1 t/ha) memberikan produksi kembang kol sebesar 9,68 t/ha. Pada penanaman II tumpangsari caisim-wortel menunjukkan bahwa produksi caisim tertinggi sebesar 7,95 t/ha dicapai oleh perlakuan pukan ayam (10 t/ha) + hijauan Tithonia (5 t/ha) + batang pisang (1 t/ha). Produksi wortel sebesar 32,67 t/ha dicapai oleh perlakuan pukan ayam (10 t/ha) + arang sekam (500 kg/ha) + hijauan kirinyu (5 t/ha). Terjadi peningkatan produktivitas tanaman sayuran 14-22%. Aplikasi kombinasi pukan dan hijauan Tithonia diversifolia, kirinyu dan sisa tanaman dapat menurunkan dosis pukan ayam 9 t/ha dan dapat memenuhi kebutuhan hara sayuran.

Kata kunci: Pengelolaan hara, sayuran organik, sifat kimia dan biologi tanah

Download full papper 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *