PETUNJUK TEKNIS PENANGANAN BAHAN DAN PENYULINGAN MINYAK ATSIRI

PETUNJUK TEKNIS PENANGANAN BAHAN DAN PENYULINGAN MINYAK ATSIRI

Ma’Mun

 

PENDAHULUAN

Minyak atsiri merupakan salah satu produk alam Indonesia yang digunakan secara luas sebagai bahan dasar obat-obatan, parfum, sebagai flavor dan pengawet makanan, aromaterapi, pestisida nabati dan sebagainya. Di pasar dunia terdapat sekitar 90 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan, sementara di Indonesia tumbuh 40 jenis tanaman minyak atsiri dan 14 diantaranya menjadi komoditi ekspor (minyak sereiwangi, minyak akarwangi, minyak nilam, minyak pala, minyak daun cengkeh, minyak kenanga, minyak cendana, minyak anis/adas, minyak jahe, minyak massoi, minyak lada, minyak kayu putih, minyak daun jeruk purut dan minyak kemukus). Minyak-minyak atsiri tersebut diekspor sebagai minyak utuh (crude oil), kecuali minyak daun cengkeh yang sudah banyak dibuat derivat (turunannya) di dalam negeri. Total ekspor minyak atsiri Indonesia dan turunannya pada tahun 2011 > USD 150,000,000, sementara nilai total perdagangan minyak atsiri dan turunannya di seluruh dunia USD 3.000.000.000 dan setiap tahun bertambah sekitar 5%. Di pasar internasional, mutu minyak atsiri Indonesia harus bersaing dengan minyak atsiri dari negara lain.
Bahan baku untuk minyak atsiri bisa berupa daun, bunga, batang kayu, kulit kayu, buah, biji, akar atau rimpang. Bahan-bahan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh karena itu memerlukan cara penanganan dan penyulingan yang berbeda pula. Disamping itu rendemen dan mutu minyak atsiri hasil penyulingan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain varitas, lingkungan tempat tumbuh, kesuburan tanah, umur panen, cara penanganan bahan dan cara penyulingan. Agar dapat bersaing di pasar internasional, mutu minyak atsiri Indonesia harus lebih baik.

 

Download full papper disini 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *