PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA PENGGULUNG DAUN (Pachyzancla stultalis) DAN PENYAKIT BUDOK (Synchytrium) PADA NILAM >50%:

PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA PENGGULUNG DAUN (Pachyzancla stultalis) DAN PENYAKIT BUDOK (Synchytrium) PADA NILAM >50%:

Sukamto, Adria, Dono Wahyuno, Herwita Idris, dan Herman

ABSTRAK

Salah satu kendala dalam usaha tani nilam adalah serangan hama penggulung daun Pachyzancla stultalis dan penyakit budok oleh jamur Synchytrium pogostemonis. Pengendalian hama dan penyakit tersebut dengan biopestisida perlu dikaji. Pada penelitian “Pengujian Bio pestisida terhadap Hama Penggulung Daun Nilam (Pachyzancla stultalis) >50%”, telah dilakukan pengujian 3 jenis bio pestisida yang mengandung bahan aktif Cynamaldehid (kayumanis), Citronelal (seraiwangi) dan Alamandin (Alamanda chatartica) terhadap hama penggulung daun nilam Pacyzancla stultalis. Pengujian skala rumah kaca dilakukan dengan metode rearing, dalam rancangan acak lengkap (11 perlakuan dan 5 ulangan), sedangkan pengujian skala lapang dilakukan dalam rancangan acak kelompok (6 perlakuan dan 4 ulangan). Parameter pengamatan meliputi mortaliti, intensitas serangan dan indikasi lain pada larva penggulung daun nilam.  Dari hasil uji skala rumah kaca diketahui bahwa semua formula bio insektisida yang diuji dapat meningkatkan kematian larva penggulung daun P. Stultalis antara 53,50%-58,25%, dibanding kematian alami yang hanya mencapai 4,25%. Efektifitas tersebut masih rendah antara 20,83%-27,89% dibanding insektisida sintetis dengan kematian larva mencapai 73,58%. Dari uji lapangan terlihat bahwa mortaliti hama penggulung tertinggi pada perlakuan bio-KM24 (51,85%).  Pada penelitian  “Pengendalian penyakit budok pada tanaman nilam dengan pestisida nabati”,  penelitian dilakukan di lapang, di kebun petani, Brebes, Jawa Tengah. Formula  pestisida yang diuji: (1) minyak eucalyptus, (2) formula mimba, (3) seraiwangi, (4) eucalyptus + mimba + seraiwangi (1:1:1), (5) serai wangi + eucalyptus (1:1). Selain itu juga menggunakan bubur bourdeux 1 %, dan formulasi bubur bourdeux dan fungisida benomil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benomil, bubur bordeux dan pestisida mimba menekan serangan penyakit budok setelah dua kali perlakuan, dan setelah empat perlakuan intensitas serangan menjadi terendah 11% pada perlakuan fungisida benomil,12 % dengan bubur bourdeux dan 19 % dengan pestisida mimba. Pada tanaman dengan perlakuan benomil dan bubur bordeux memiliki berat tertinggi yaitu berturut-turut 1298 g dan 1330 g.

 

Kata kunci: nilam, Pogostemon cablin, kayumanis, seraiwangi, Alamanda chatartica, bio pestisida, penggulung daun, pachyzancla  stultalis, budok, pengendalian

 

ABSTRACT

 

One of constrains in patchouli production was the attack of leaf roller Pachyzancla stultalisand budok disease by fungus Synchytrium pogostemonis.  Those  pestss control with biopesticide was evaluated. On the experiment Biopesticide test against Pachyzancla stultalis on patchouli >50%, Effectivity test of 3 kinds of bio-pesticides which contained active ingredient cynamaldehid (cinnamon), citronelal (citronella grass) dan alamandin (Alamanda chatartica) against that pest. Greenhouse test was carried out with rearing method,Pengujian skala rumah kaca dilakukan dengan metode rearing, in Complete Randomized Design (11 treatment and 5 replication), while field test was carried out with Randomized Bloch Design (6 treatments and 4 replications). Observation parameter were mortality, attack intensity and other indication on larvae.  From greenhouse test indicated that all biopesticide formula tested increased the larvae  mortality of P. Stultalis as much as 53,50%-58,25%, in compared to natural mortality (4,25%). Those effectivity still low 20,83%-27,89% in compared to synthetic insecticide (73,58%). In the fiel test indicated that the highest mortality was came from treatment bio-KM24 (51,85%).  On the experiment of “ Management of budok disease on patchouli with botanical pesticide” , the experiment were conducted in farmer field in Brebes, Central Java. The formula tested werei: (1) eucalyptus oil, (2) neem formula, (3) citronella oil, (4) eucalyptus + neem + cetronella (1:1:1), (5) citronella + eucalyptus (1:1), (6) bourdeux mixture 1 %, (7) formulated bourdeux mixture and (8) chemical benomil. The result shown that benomyl, bordeux mixture and neem suppressed the budok disease intensity after twice application, and after four application, the intensity become as lowest as 11% on benomyl application, 12 % on  bourdeux mixture application, and 19 % neem formula applicaton. On plants treated with benomyl and bordeux mixture had fresh weight as highest as 1298 g and 1330 g, respectively.

 

Key words: patchouli, Pogostemon cablin, cinnamon, citronella grass, Alamanda chatartica, eucaliptus, neem, bordeoux mixture, leaf roller, pachyzancla stultalis, budok, control.

Download pdf,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *