EVALUASI PLASMA NUTFAH TANAMAN OBAT DAN AROMATIK

EVALUASI PLASMA NUTFAH TANAMAN OBAT DAN AROMATIK

C. Syukur, I. Darwati, D. Seswita, R. Bakti, D. Surachman

ABSTRAK

Evaluasi plasma nutfah tanaman obat dan aromatik dilakukan dari Januari sampai Desember 2012 di Purwakarta, Cikencreng (Cianjur Selatan), Gunung Halu, Cibinong, Banten, Bantul dan Kulon Progo. Kegiatan ini terdiri dari empat sub kegiatan. Sub kegiatan 1 : Evaluasi daya hasil 9 aksesi Jahe merah. Evaluasi daya hasil dari 9 aksesi jahe merah yang ditanam di lahan marjinal Lebak Banten, menunjukkan keragaman yang rendah untuk karakter tinggi tanaman (9.89%), jumlah daun (8.21%), panjang daun (6.48%), dan lebar daun (6.17%), sedangkan keragaman yang cukup besar di tampilkan pada karakter  tinggi batang (10,48%), jumlah anakan (14.91%) dan diameter batang (14.89%). Hal ini menunjukkan adanya keseragaman antar aksesi dari karakter-karakter tersebut kecuali jumlah anakan, tinggi batang dan diameter batang yang memiliki perbedaan yang cukup nyata antar aksesi. Berdasarkan produksi rimpang basah dalam ton perhektar diperoleh aksesi-aksesi yang dapat beradaptasi baik dengan daya hasil yang tinggi untuk dikembangkan di lahan marjinal yaitu Ziofrub 001, Ziofrub 003, Ziofrub 005, Ziofrub 006, Ziofrub 7, Ziofrub 008 dan Ziofrub 009, sedangkan untuk seleksi daya hasil dan ketahanan terhadap becak daun ditampilkan oleh Ziofrub 001, Ziofrub 007 dan Ziofrub 008 dan dari hasil analisis kadar gingerolnya, ada 3 aksesi yang lebih dari 1% yaitu Ziofrub 004 sebesar 1,13%, Ziofrub 006 sebesar 1,05% dan Ziofrub 009 sebesar 1,03%. Sub kegiatan 2 : Evaluasi daya hasil dan mutu 6 aksesi Jahe Putih Kecil di lahan Marjinal. Masa pertumbuhan jahe putih kecil dari mulai tanam sampai panen antara 10 -12 bulan dan pertumbuhan mencapai optimal pada umur 7 bulan – 8 bulan setelah tanam. Untuk mendapatkan data pertumbuhan vegetatif,  pengamatan dilakukan pada umur 8 bulan untuk pertanaman baik di Banten, Bantul maupun di Kulonprogo untuk parameter tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan diameter batang. Hasil pengamatan pertumbuhan vegetatif di Banten memiliki koefisien keragaman yang berkisar antara 6.34% sampai 12.72%. Dari 6 aksesi yang diuji menunjukkan rata-rata tinggi tanaman sebesar 56.51 cm, dan tertinggi ditampilkan oleh aksesi Ziofama 006 sebesar 65.92 cm sedangkan terendah ada pada aksesi Ziofama 004 sebesar 45.45 cm. Jumlah anakan dari 6 aksesi memiliki koefisien keragaman yang rendah dengan hasil analisis yang menunjukkan kedekatan karakter jumlah anakan pada 6 aksesi yang di evaluasi dengan rata-rata 28 anakan perumpun. Jumlah anakan terbanyak ditampilkan aksesi Ziofama 001 yang memiliki 34 anakan per tanaman dan Ziofama 006 memiliki 24 anakan pertanaman.  Pertumbuhan tanaman dari ke 6 aksesi JPK yang ditanam di Bantul rata-rata memiliki keragaman yang rendah dibawah 10%, kecuali  karakter tinggi tanaman sekitar 13,98 %, dengan aksesi tertinggi ditampilkan oleh Ziofama 006 berukuran 73,25 cm. Jumlah anakan rata-rata sebanyak 33 anakan perumpun dan aksesi dengan anakan terbanyak ditampilkan oleh aksesi Ziofama 004 sebanyak 37 anakan. Produksi tertinggi di Banten ditampilkan oleh Ziofama 001 dan 004 dengan produksi 11,79 ton/ha dan 11,67 ton/ha, sedangkan aksesi lainnya di bawah 10 ton/ha. Produksi yang dihasilkan di Bantul menunjukkan Ziofama 001 dan 002 produksinya paling tinggi dibandingkan aksesi lainnya yaitu sebesar 17,89 ton/ha dan 17,01 ton/ha, sedangkan aksesi Ziofama 004 sebesar 15,22 ton/ha, untuk Ziofama 005 dan 006 masih berada di bawah rata-rata produksi yaitu 12,40 ton/ha dan 13,54 ton/ha. Dari hasil produksi di Kulonprogo menunjukkan Ziofama 001 lebih tinggi dibandingkan aksesi lainnya yaitu 14,47 ton/ha dan Ziofama 003 produksinya sebesar 11,13 ton/ha. Aksesi lainnya seperti Ziofama 002, 004, 005 dan 006 memiliki produksi di bawah 10 ton/ha. Sub kegiatan 3 : Evaluasi daya hasil dan mutu 7 aksesi Temulawak di lahan Marjinal. Rata-rata pertumbuhan dari 7 aksesi temulawak di daerah marjinal seperti Banten, Bantul dan Cibinong, pada fase vegetative untuk karakter ukuran helaian daun dan diameter batang memiliki karagaman yang rendah antara 2%-3% dan karakter yang memiliki keragaman agak besar adalah karakter tinggi tanaman dan jumlah anakan. Dari 7 aksesi yang dievaluasi aksesi yang memiliki ukuran tinggi tanaman tertinggi yaitu aksesi BYL 006 dengan ukuran 205,67 cm dan jumlah anakan terbanyak ditampilkan oleh aksesi KLP 004 sebanyak 6 anakan perumpun. Interaksi antara aksesi dan lokasi berbeda nyata secara statistik terhadap jumlah daun, bobot kering akar dan akar air. Interaksi antara aksesi dengan lokasi tanam di Cibinong pada jumlah daun, bobot kering akar dan akar air tertinggi secara berurutan adalah Cuxa 21 (27,33 cm), Cuxa 3 (23,94 g) dan Cuxa 1 (62,08 g). Bobot kering akar tidak berbeda nyata pada interaksi aksesi dan lokasi Cibinong. Interaksi aksesi dengan  lokasi  Banten, hasil tertinggi pada jumlah daun, bobot kering akar dan akar air yaitu Cuxa 19 (45,67), Cuxa 21 (24,25 g) dan Cuxa 21 (42,31 g). Pada interaksi aksesi dengan lokasi Yogyakarta menunjukkan bahwa parameter jumlah daun, bobot kering akar dan akar air tertinggi yaitu Cursina (28,53), Cuxa3 (22,40 g) dan Cursina (34,08 g). Pola pertumbuhan aksesi yang dihasilkan terlihat tidak berpengaruh terhadap bobot segar rimpang karena bobot rimpang hanya berbeda pada asksesi. Sub kegiatan 4 : Evaluasi daya hasil 10 aksesi Seraiwangi. Dari 10 aksesi seraiwangi yang di evaluasi di tiga lokasi yaitu di Cianjur Selatan dengan ketinggian 1. 200 m dpl, di Purwakarta dengan ketinggian 950 m dpl dan di Bandung Barat dengan ketinggian 1.100 m dpl, secara umum menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang beragam dengan koefisien keragaman yang berkisar antara 4.81% – 30.43% untuk tinggi tanaman berkisar antara 7.52% – 10.16%, untuk panjang daun berkisar antara, 7.83% – 11.68% untuk lebar daun berkisar antara, 4.81% – 9.11% untuk jumlah anakan berkisar antara, 20.85% – 30.43%, untuk lebar kanopi berkisar antara 7.80% – 11.23% sedangkan untuk diameter batang berkisar antara 6.49% – 9.24%. Produksi dan mutu yang telah dievaluasi di Purwakarta, Cianjur Selatan dan Bandung Barat menunjukkan adanya beberapa aksesi yang memiliki produksi dan hasil minyak yang tinggi. Dari ke tiga lokasi tersebut, lokasi Purwakarta menampilkan hasil minyak tertinggi lebih dari 400 l /ha, yaitu Andus 004, diikuti dengan oleh Andus 003 dan 002 yang hasil minyaknya berkisar antara 300 – 400 l /ha. Bobot segar daun yang dihasilkan dari Purwakarta, tertinggi ditampilkan oleh Andus 002 sebesar (28.77 ton/ha), Andus 003 sebesar (22.80 ton/ha), Andus 004 sebesar (23.41 ton/ha) dan Andus 009 (20.29 ton/ha) dengan hasil minyak berkisar antara 250 – 400 liter/ha, kemudian bobot segar daun di Cianjur Selatan, produksinya lebih rendah yaitu Andus 001 sebesar 14.64 ton/ha, Andus 006 sebesar 13,94 ton/ha dan Andus 007 sebesar 6,76 ton/ha dengan kisaran hasil minyak antara 133.70-233.88 l  per hektar. Sedangkan untuk Bandung Barat produksi tertinggi ditampilkan oleh Andus 001 sebesar 16,16 ton/ha, Andus 002 sebesar 23,96 ton/ ha, Andus 006 sebesar 27,28 ton/ha dan andus 010 sebesar 21,90 ton/ha, dengan kisaran hasil minyak antara 163.48-298.37 liter per ha. Berdasarkan hasil tersebut, maka evaluasi dari 10 aksesi seraiwangi yang ditanam di Purwakarta memberikan produksi dan hasil minyak tinggi dibandingkan lokasi Cianjur Selatan dan Bandung barat. Untuk melihat kestabilan produksi dan hasil minyak di 3 lokasi tersebut, maka pertumbuhan dan hasil pertanaman tahun ke-2 dapat memberikan informasi nomor-nomor harapan yang memiliki produksi dan hasl minyak yang stabil.

Kata kunci: Evaluasi, plasma nutfah jahe merah, jahe putih kecil, temulwak, seraiwangi, produksi, mutu, lahan marjinal, daerah pengembangan

ABSTRACT

Evaluation of medicinal and aromatic crops germplasm was conducted from January to December 2012 in Purwakarta, Cikencreng (Cianjur Selatan), Gunung Halu, Cibinong, Banten, Bantul dan Kulon Progo. The activities consits of four sub activities e.i : Sub Activity 1: Evaluation of yield 9 accession Red Ginger. Evaluation of yield of 9 red ginger accessions grown on marginal land Lebak Banten, showed a low diversity of plant height (9.89%), number of leaves (8.21%), leaf length (6:48%), and leaf width (6.17%) , whereas considerable diversity in the show on the characters plant height (10.48%), number of tillers (14.91%) and stem diameter (14.89%). It  showed the lack of uniformity between the accession of these characters except number of tillers, plant height and stem diameter with a discernable difference between accession. Based on rhzome production in tonnes per hectare obtained wet-accession accession that can adapt well to a high yield on marginal land that is developed Ziofrub 001, Ziofrub 003, Ziofrub 005, Ziofrub 006, Ziofrub 7, Ziofrub 008 and Ziofrub 009, while for selection yield and resistance to leaf spot shown by Ziofrub 001, Ziofrub 007 and Ziofrub 008 and the results of its analysis of the levels of gingerol, there are 3 accessions were more than 1%, ie Ziofrub 004 1.13%,  Ziofrub 006 of 1.05% and Ziofrub 009 by 1.03%. Sub-activity 2: Evaluation of yield and quality of six accessions  Small White ginger on marginal land. Future growth of small white ginger from planting to harvest between 10 -12 months and achieve optimal growth at age 7 months – 8 months after planting. To obtain vegetative growth data, observations were made at the age of 8 months for planting both in Banten, Kulonprogo, and in  Bantul parameters for plant height, number of tillers, number of leaves, leaf length, leaf width and stem diameter. Observations of vegetative growth in Banten has a coefficient of variability ranged from 6.34% to 12.72%. From 6 accessions tested showed an average plant height of 56.51 cm, and the highest displayed by accessions Ziofama 006 of 65.92 cm while the lowest is in accessions Ziofama 004 of 45.45 cm. The number of tillers of 6 accessions have a low coefficient of variability analysis results indicate the closeness character accession number of tillers were evaluated at 6 with an average of 28 seedlings per hill. The number of chicks ever shown Ziofama 001 accessions which have 34 tillers per plant and Ziofama 006 have 24 puppies planting. Plant growth of the 6 accessions were planted in Bantul JPK average have a lower diversity of below 10%, except for plant height of about 13.98%, with the highest accession Ziofama 006 shown by measuring 73.25 cm. The average number of tillers as many as 33 tillers per hill and accession by most chicks accessions Ziofama 004 displayed by as many as 37 puppies. Highest production in Banten shown by Ziofama 001 and 004 with a production of 11.79 tonnes/ha and 11.67 tonnes/ha, while the other accessions under 10 tons/ha. Production in Bantul, accessions Ziofama 001 and 002 showed the highest production compared to other accessions in the amount of 17.89 tonnes /ha and 17.01 tonnes/ha, whereas accessions Ziofama 004 of 15.22 tons/ha, to Ziofama 005 and 006 still under average production is 12.40 tons/ha and 13.54 tons/ha. Production in Kulonprogo showed Ziofama 001 was higher than other accession is 14.47 tons/ha and Ziofama 003 production of 11.13 tonnes /ha. Accession 002, 004, 005 and 006 Ziofama have a production of less than 10 tons/ha. Sub-activity 3: Evaluation of yield and quality of 7 accessions Ginger on marginal land. The average growth of 7 accessions of ginger in marginal areas such as Banten, Bantul and Cibinong, the vegetative phase to the character of the leaf blade size and stem diameter have a low diversity in between 2% – 3%, and the characters have a rather large diversity of plant height is and the number of tillers. From 7 accessions were evaluated accession had the highest plant height accession BYL 006 with 205.67 cm size and the number of chicks ever featured by accessions KLP 004 as many 6 seedling per hills. The interaction between accession and location were statistically significantly different to the number of leaves, roots and root dry weight of water. The interaction between accession to the planting site in Cibinong on the number of leaves, roots and root dry weight of water in order are Cuxa 21 highest (27.33 cm), Cuxa 3 (23.94 g) and Cuxa 1 (62.08 g). Root dry weight was not significantly different from the interaction of accession and location Cibinong. Interaction accession with the location of Banten, showed the highest result on the number of leaves, roots and root dry weight of water that is Cuxa 19 (45.67), Cuxa 21 (24.25 g) and Cuxa 21 (42.31 g). Interaction between accession with the location (Yogyakarta)  showed  that parameter number of leaves, dry weight of roots and root water of  Cursina was highest (28.53) than  Cuxa 3 (22.40 g) and Cursina (34.08 g). The resulting pattern of growth seen accession no effect on fresh weight as the weight of rhyzome  differ only in accessions. Sub-activity 4: Evaluation of  10 accessions Lemongrsass. Ten  accessions of Lemongrass were evaluated at three locations: in the South Cianjur altitude 1200 m asl, in Purwakarta with an altitude of 950 m above sea level andi west Bandung  with a height 1100 m above sea level, generally showed a diverse vegetative growth with a coefficient of variability ranged from 4.81% – 30.43% for plant height ranged from 7.52% – 10.16%, for leaf length ranged from, 7.83% – 11.68% for leaf width ranged from, 4.81% – 9.11% for the number of tillers ranged, 20.85% – 30.43 %, for the width of the canopy ranged from 7.80% – 11.23%, while for stem diameter ranged from 6.49% – 9.24%. Production and quality that has been evaluated in Purwakarta, South and West Bandung Cianjur revealed a number of accessions that have production and high oil yield. From three locations,  Purwakarta showed  the highest oil yield of more than 400 l / ha performed by Andus 004, followed by Andus 003 and Andus 002, the oil yield ranged between 300-400 l /ha. Leaf fresh weight resulting from Purwakarta, shown by Andus 002 highest amount (28.77 tonnes /ha), Andus 003 for (22.80 tonnes/ha), at Andus 004 (23.41 tonnes/ha) and Andus 009 (20.29 tonnes/ha) with oil yields ranged from 250-400 liters/ha, then the weight of fresh leaves in South Cianjur, production was low for Andus 001 of 14.64 tons/ha, Andus 006 of 13.94 tons/ha and Andus 007 of 6.76 tons/ha with a range between 133.70-233.88 liters of oil per hectare. Location of West Bandung had the highest production which  showed by Andus 001 at 16.16 tons/ha, Andus 002 of 23.96 tons/ha, Andus 006 of 27.28 tons/ha and Andus 010 of 21.90 tons/ha, with a range of between 163.48-298.37 liters of oil per hectare. Based on the results, the evaluation of 10 accessions  lemongrass grown in Purwakarta  provide production and higher oil yield than the location of the South Cianjur and West Bandung. To see the stability of production and oil yield in 3 locations, then growth and crop yield in two years can provide numbers that have expectations and production of oil stable yields.

Keywords: Evaluation, germplasm, red ginger, small white ginger, java turmeric lemongrass, yield , quality, marginal lands, areas thresholded

Download pdf,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *