Deteksi Bakteri Penyakit Tanaman

Laboratorium penyakit tanaman Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat sehari-harinya selain melaksanakan kegiatan penelitian juga melakukan analisa patogen penyebab penyakit tana-man dari sampel/contoh yang diterima.

Pekerjaan menangani sampel tanah atau tanaman sakit yang diduga disebabkan oleh bakteri, dan deteksi populasi bakteri Ralstonia di tanah merupakan bagian dari kegiatan penelitian yang akhir-akhir ba-nyak dikirim ke lab. penyakit tanaman. Di laboratorium ada seperangkat alat untuk mela-kukan deteksi secara elisa, namun sampel yang datang pada umumnya bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya bakteri atau populasi Ralstonia di dalam tanah. Laboratorium Balittro mempunyai kemam-puan mengidentifikasi bakteri, jamur, nematoda dan virus, tetapi dalam penulisan kali ini uraian akan lebih mengungkapkan tentang pengalaman pena-nganan sampel bakteri yang dilakukan di laboratorium penyakit tanaman Balittro.

Deteksi

Apabila ada sampel yang masuk untuk dianalisa patogen penyebabnya, biasanya akan dilakukan pertemuan atau dis-kusi antara peneliti yang mempunyai kepakaran bakteri, ja-mur, nematoda, maupun virus. Apabila dari pengamatan awal ada inidikasi penyakit tersebut disebakan oleh bakteri, maka tim bakteri yang akan menangani sampel tersebut lebih lanjut.

Sampel yang berbentuk rimpang, batang yang sukulen atau bagian tanaman lainnya yang mempunyai jaringan tebal akan lebih mudah untuk dike-tahui ada tidaknya bakteri berdasarkan masa bakteri yang keluar apabila jaringan ditekan atau jaringan diletakkan dalam air (Gambar 1A dan 1B). Tahap selanjutnya adalah melakukan isolasi dengan cara mengambil masa bakteri dan menumbuh-kannya pada media buatan, berupa Nutrient Agar. Ada tidaknya Ralstonia dipastikan dari karakteristik koloni bakteri yang tumbuh pada media.

 

Sampel yang berupa tanah, akan memerlukan penangan yang sedikit berbeda. Metode pengenceran umumnya dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya bakteri atau mengetahui perkiraan populasi bakteri Ralstonia pada satu gram tanah. Pengenceran bertingkat antara 104 hingga 106 dilaku-kan, tergantung pada kondisi tanah atau informasi besar-  nya kerusakan yang terjadi di lapang.

 

Penanganan Sampel dan Hasil Uji.

 

Gambar 1. Contoh analisa/deteksi bakteri. (A) Masa bakteri pada jarak pagar yang sakit, (B) Masa bakteri (keruh) dari tanaman nilam bergejala layu, dan (C) koloni bakteri pada media NA.

Adakalanya contoh tana-man sakit datang pada saat media tidak tersedia atau alat-alat yang diperlukan untuk isolasi dalam keadaan terpakai oleh peneliti lainnya. Pada kon-disi tersebut, penanganan con-toh menjadi kendala tersendiri. Biasanya contoh yang berupa tanaman akan di simpan di dalam ruang sejuk (refrigerator ± 4° C), ruangan sejuk dan ke-ring (ber AC, ± 14-22o C), atau cukup dibungkus dengan kertas koran dan disimpan di ruang ber AC, tergantung pada kon-disi dan jenis contoh yang dite-rima.

 

Hasil uji yang diperoleh bia-sanya berupa data jumlah ko-loni yang muncul atau tumbuh pada permukaan media setelah diinkubasi selama ± 4 – 5 hari. Data jumlah koloni diubah ke dalam satuan “koloni per gram” berdasarkan pada tingkat peng-enceran yang dilakukan; demi-kian juga dengan koloni yang mempunyai karakteristik Ralstonia (tumbuh tidak teratur dengan bagian tepi tipis dan tidak rata). Sebagai penguat data biasanya dilakukan doku-mentasi dengan cara meng-ambil gambar koloni yang tum-buh pada permukaan media (Gambar 1C).

 

Kendala Dalam Penanganan Sampel

Seperti telah disampaikan di atas, kendala dalam penanganan sampel adalah (1) sampel datang tanpa mela-kukan konfirmasi terlebih da-hulu; sehingga sampel tidak selalu dapat ditangani hari itu juga, (2) ada selang waktu yang terlalu lama antar pengambilan sampel dengan sampel dibawa ke laboratorium. Oleh karena itu, kepala laboratorium selalu memverifikasi terlebih dahulu mengenai kelayakan sampel, dan (3) bagian yang diambil bukan merupakan bagian dima-na patogen sedang aktif tumbuh. Untuk sampel berbentuk bahan tanaman, pernah diterima bagian tanaman yang telah membusuk, sehingga deteksi keberadaan patogen/bak-teri menjadi sulit. Bagian tanaman yang masih sehat dan sakit merupakan sampel yang ideal untuk dianalisa. dan, (4) metode pengenceran merupakan metode yang sederhana, dan memerlukan keakuratan dalam pengambilan contoh, khususnya untuk contoh tanah. Sering dalam pengerjaan diper-oleh hasil yang sangat beragam antar ulangan di dalam satu perlakuan. Contoh tanah yang diambil dengan cara komposit sering memberi hasil yang beragam di dalam ulangan. Memperbanyak jumlah ulangan (cawan petri) ataupun membuat kisaran pengenceran yang lebih luas merupakan cara untuk meminimalkan kejadian tersebut di atas.

 

Penanganan contoh tanaman sakit atau tanah yang   baik selain mempermudah dalam analisa baik populasi mau-pun mendeteksi adanya bakteri yang dicurigai; juga akan mem-beri informasi yang lebih akurat mengenai kondisi tanaman atau suatu lahan di lapang.

Komunikasi antar pengambil sampel, dengan petugas pelaksana analisa akan sangat membantu bagaimana suatu sampel itu harus ditangani secara benar. Dengan semakin banyaknya sampel yang diterima akhir-akhir ini semakin membuka wawasan mengenai bagaimana seharusnya suatu sampel ditangani, sehingga hasil yang dapat menggambarkan kondisi aktual di lapang dapat diperoleh.

 

One thought on “Deteksi Bakteri Penyakit Tanaman

  • Selasa April 10th, 2018 at 11:50
    Permalink

    bakteri penyakit tanaman ini masi ada sampai saat ini? atau jenisnya udah beda?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *