KARAKTERISASI MORFO-FISIOLOGI JAMBU METE SEBAGAI PENCIRI PRODUKSI TINGGI DAN RESPON PEMUPUKAN TERHADAP PRODUKSI BEBERAPA AKSESI JAMBU METE

KARAKTERISASI MORFO-FISIOLOGI JAMBU METE SEBAGAI PENCIRI PRODUKSI TINGGI DAN RESPON PEMUPUKAN TERHADAP PRODUKSI BEBERAPA AKSESI JAMBU METE

I. Darwati, O. Trisilawati, M. Rahardjo, Rosita SMD, H. Nurhayati, Hermanto,S. N. Syamsiah, M. Tajudin, Enjang, Asmara, M. Ali

ABSTRAK

Jambu Mete merupakan komoditas perkebunan yang cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia dalam rangka meningkatkan ekspor non migas. Namun produktivitas jambu mete di Indonesia masih cukup rendah, hal ini disebabkan oleh budidaya yang masih sederhana, belum menggunakan bahan tanaman unggul sebagai benih dan serangan hama Helopeltis spp. Upaya yang efektif untuk menanggulangi permasalahan rendahnya produktivitas jambu mete adalah melalui penggunaan varietas unggul yang toleran terhadap hama Helopeltis spp dan perbaikan sistem budidaya pemupukan. Salah satu cara untuk menghasilkan varietas  unggul dengan produktivitas tinggi dan dan toleran hama Helopeltis spp adalah melalui proses hibridisasi. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengetahui produktivitas tanaman hasil hibridisasi. Oleh karena itu diperlukan suatu cara untuk seleksi dini tanaman jambu mete dengan produktivitas tinggi yaitu menggunakan karakter morfo fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan karakter morfo-fisiologi pohon induk Jambu mete (2) mendapatkan respon tanaman jambu mete varietas BO2 terhadap aplikasi pupuk hayati dan pengurangan dosis pemupukan NPK di lapangan. Penelitian ini dilaksanakan di KP. Cikampek dan Rumah Kaca, Balittro, Bogor mulai bulan Januari-Desember 2012. Kegiatan dilaksanakan di lapang dan di laboratorium. Penelitian ini terbagi menjadi 2 kegiatan yaitu (1) Karakterisasi morfo-fisiologi jambu mete sebagai penciri produksi tinggi. Bahan tanaman yang digunakan adalah varietas jambu mete dipilih yang mempunyai produksi tinggi (B02) dan varietas yang mempunyai produksi rendah (Laode Gani, Laode Kase, Laura dan GG1) serta dibedakan dalam 3 kelompok umur tanaman (17, 8, 5 tahun). Parameter morfologi dan anatomi yang diamati adalah produksi gelondong (kg/pohon), berat kering daun (g/daun), ketebalan daun (mm), Luas daun (cm2), dan jumlah stomata. Parameter fisiologi yaitu  kandungan klorofil (a+b) (%), laju fotosintesis (mmol CO2 m-2 s-1), kandungan karbohidrat daun (%), potensial air daun (bar), dan Relative Water Content  (RWC) (%). Untuk mengetahui parameter morfo-fisiologi yang berpengaruh terhadap produksi dilakukan uji regresi terhadap peubah dari hasil uji sidik ragam yang berbeda nyata. (2) respon pemupukan terhadap produksi jambu mete varietas BO2.  Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok, terdiri dari 2 faktor, diulang 4 kali, dengan 4 tanaman/perlakuan. Faktor I adalah aplikasi FMA, yaitu tanpa FMA (M0) dan M1=10 kaplet FMA/tanaman, faktor II adalah pupuk NPK (g/tan.) yang terdiri dari: a). R = Kontrol (dosis rekomendasi= 100 g N, 80 g P2O5, 100 g K2O/tan.), (b) F1 = ¾ dosis pupuk NPK rekomendasi, dan c). F2 = ½ dosis pupuk NPK rekomendasi. Pengamatan dilakukan terhadap parameter pertumbuhan tanaman. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan peubah klorofil dan potensial air tanaman jambu mete terhadap produksi gelondong menghasilkan uji sidik ragam yang berbeda nyata, akan tetapi hanya peubah klorofil saja yang memberikan korelasi positif terhadap produksi gelondong tanaman jambu mete produksi tinggi. Sedangkan klorofil tanaman  produksi rendah tidak berkorelasi terhadap produksi gelondong meskipun secara sidik ragam berbeda nyata. Respon jambu mete berumur ± 4 tahun terhadap aplikasi FMA dan penurunan dosis pemupukan NPK 25% sampai 50% dari dosis rekomendasi mulai tampak dari peningkatan beberapa parameter karakter fisiologi tanaman. Selain itu, jumlah gelondong pada tanaman jambu mete yang diberi perlakuan FMA tidak menurun dengan pengurangan dosis pupuk NPK sampai ½ dosis rekomendasi. Aplikasi FMA berpengaruh nyata terhadap rerata laju fotosintesis jambu mete pada 12 BSP (Bulan Setelah Perlakuan). Peningkatkan laju fotosintesis jambu mete pada perlakuan aplikasi FMA pada 12, 15 dan 17 BSP sebesar 61,3%, 12,3% dan 10,2% dibandingkan tanpa FMA. Aplikasi FMA berpengaruh positif terhadap beberapa kandungan hara daun jambu mete, yaitu N, P, K dan Ca.

Kata kunci: Anacardium occidentale, karakter morfo-fisiologi, produksi, mutu, , FMA, pupuk NPK

 

ABSTRACT

Cashew is a potential commodity to be developed in Indonesia as non-oil exports commodity. However the productivity is still low, caused by the improper cultivation technique such as not using a superior plant material and also the presence of Helopeltis spp as main pest in cashew. The problems can be solved through the use of high yielding varieties which are tolerant to Helopeltis spp and supported by the improvement of fertilization technology. Hybridization is one way to produce high-yielding varieties with Helopeltis spp tolerance characteristic. However it took a long time to gain the results. Therefore it is necessary to find a method to select high-yielding variety through morpho-physiological characterization. The objectives of the research were (1) to obtain morpho-physiological characteristic of the parent tree (2) to get the response of BO2 varieties to organic fertilizer application and dose reduction of NPK fertilizer in the field. The research was conducted in KP. Cikampek and the greenhouse, IMACRI, Bogor from January to December 2012. The research activities were carried out in the field and laboratory. The research was split into two activities: (1) the morpho-physiological characterization as the identifiers of high production varieties and Plant material used was a selected high-yielding varieties (B02) and low-yielding varieties (Laode Gani, Laode Kase, Laura and GG1). The plants were divided into 3 age groups (17, 8, 5 years). Morphological and anatomical parameters measured were the production of nuts (kg/tree), leaf dry weight (g/leaf), leaf thickness (µm), leaf area (cm2), and the number of stomata. Physiological parameters consisted of the content of chlorophyll (a+b) (%), photosynthetic rate (µmol CO2 m-2s-1), leaf carbohydrate content (%), leaf water potential (bar) and relative water content (RWC) (%). To determine the morpho-physiological parameters that affect the production, the data was analyse statistically and if the result is significant, will be tested further using regression analysis. (2) Fertilization response to the production of BO2 variety.  Planting material used was high-yielding varieties B02. The design used was a randomized block design, 2 factors, 4 replications, with 4 plants/treatment. The first factor was the application of FMA; without FMA (M0) and M1= 10 caplets FMA/plant.  Factor II was NPK fertilizer (g/plant.) consisted of: a). R = Control (recommendation dosage = 100 g N, 80 g P2O5, 100 g K2O/plant), (B) F1 = ¾ NPK fertilizer recommendations dosage and c). F2 = ½ NPK fertilizer recommendations dosage. The observation was conducted on plant growth parameters. Data were statistically analyzed using analysis of variance, followed by Duncan test. The result showed the chlorophyll content and water potential variables showed significant effect on yield, however only chlorophyll content variable that had positive correlation to the production of the high-yield varieties. While on low-yielding varieties, chlorophyll content has no correlation to the yield although the result of analysis of variance was significantly difference. Response of 4 year old plants to FMA application and NPK dose reduction of 25% to 50% starting to affect some parameters of physiological characteristic. In addition, cashew nuts numbers on FMA-treated plants does not decrease with the reduction of NPK fertilizer to ½ dosage recommendations. The applications of FMA significantly affected the mean photosynthetic rate at 12 MAT (Months After Treatment). The increasing rate of photosynthesis on FMA-treated plants at 12, 15 and 17 MAT were  61.3%, 12.3% and 10.2% respectively compared to non-FMA treated plants. The applications of FMA also had positive effect on some nutrients content of cashew leaf such as N, P, K and Ca.

Keywords: Anacardium occidentale, morpho-physiology characteristics, production, quality, FMA, NPK fertilizer

Download pdf,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *