UJI ADAPTASI LIMA NOMOR HARAPAN NILAM (Pogostemon cablin BENTH) TAHAN 60% PENYAKIT LAYU BAKTERI DI 3 AGROEKOLOGI

UJI ADAPTASI LIMA NOMOR HARAPAN NILAM (Pogostemon cablin BENTH) TAHAN 60% PENYAKIT LAYU BAKTERI DI 3 AGROEKOLOGI

E. Hadipoentyanti, Amalia, Nursalam S., S.Y. Hartati, O. Trisilawati

ABSTRAK

Masalah utama yang dihadapai budidaya nilam (Pogostemon cablin Benth) di Indonesia adalah penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Kerugian yang ditimbulkan sebesar 60 – 95%. Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan terhadap penyakit layu bakteri. Varietas Sidikalang diindikasikan mempunyai sifat agak toleran terhadap penyakit tersebut. Keterbatasan sumber genetik merupakan faktor pembatas dalam pemuliaan tanaman nilam karena tanaman nilam tidak berbunga/berbiji dan selalu diperbanyak secara vegetatif dengan setek. Salah satu upaya yang efektif untuk menambah keragaman genetik adalah dengan cara induksi mutasi in vitro dan in irradiasi dengan memanfaatkan variasi somaklonal. Penelitian ini terdiri dari 1 kegiatan yaitu Uji adaptasi 5 nomor harapan nilam (Pogostemon cablin Benth) tahan penyakit layu bakteri di 3 agroekologi.Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi karakter morfologi, daya hasil dan mutu 5 nomor harapan nilam di 3 agroekologi. Metodologi kegiatan penelitian dilakukan di 3 agroekologi yaitu Banten (100 m dpl), Kuningan (400 m dpl) dan Purwokerto (600 m dpl). Perlakuan adalah 5 nomor harapan (A, B, C, D, E) dan 1 varietas pembanding (F). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Parameter yang diamati intensitas penyakit, pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, panjang ruas dan jumlah daun), produksi terna (basah dan kering angin), produksi minyak, kadar minyak dan mutu minyak (kadar patchouli alkohol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertumbuhan somaklon nilam bervariasi di 3 agroekologi  dengan serangan penyakit layu bakteri terendah dibawah 10% adalah  somaklon A, B  dan D. Pertumbuhan terbaik pada tahun kedua adalah somaklon C, diikuti oleh somaklon D, somaklon A dan somaklon B. Rata-rata kadar minyak dan PA di Banten tertinggi pada somaklon A sebesar 4,10% dan F 34,98%. Sedang di Kuningan dan Purwokerto kadar minyak tertinggi pada somaklon C 3,20% dan 2,70%. Kadar PA tertinggi adalah somaklon E sebesar 31,31% dan 34,13%.

Kata kunci: Pogostemon cablin,  variasi somaklonal, adaptasi, ketahanan, penyakit layu bakteri

ABSTRACT

The main problems of Patchouli (Pogotemon cablin Benth) cultivation in Indonesia is bacterial wilt disease caused Ralstonia solanacearum, and lost 60%-95%. Until now superior/resistant variety has not found yet. Sidikalang variety indicated tolerant to bacterial wilt disease. The genetic source caused limited factor of patchouli breeding program , because Indonesia patchouli plant cannot flowering/no seed and multiplication always by cutting. One of efforts to increase genetic variability were in vitro induction mutation and irradiation used somaclonal variation. The research consist 1 activity was Adaptation test of six promissing numbers of resistant patchouli (Pogostemon cablin Benth) to bacterial wilt disease at 3 agroecology. The objectivity of research was to evaluation morphology character, yield potency and quality of 6 promissing numbers at 3 agroecology. Methodology of activity the research conducted at 3 agroecology i.e Banten (100 m dpl), Kuningan (400 m dpl) and Purwokerto (600 m dpl). The treatment were 5 promissing numbers (A, B, C, D, E) and 1 variety as control (F). The treatment were arranged in Block Randomized Design with 4 replications. Parameters observed were intensity of disease, plant growth (plant diameter, branch numbers, internode length and leave numbers), herbs production, oil content and oil quality (patchouli alcohol). The results of research showed that variation growth of somaclone at 3 agroecology. Somaclone A,B and D have intensity of wilt disease attack lower 10% compared than the other. The best growth on th second year are somaclone A and somaclone B, while somaclone F not good performance growth comapared than the other. The higher of content oil and PA at Banten is somaclone A (4,10%) and F (34,98%). The higher of content oil at Kuningan and Purwokerto on somaclone C (3,20%) and C (2,70%), while the higher PA are somaclone E (31,31%) and 34,13%.

Keywords: Pogostemon cablin, patchouli, somaclonal variation, adaptation, resistance, bacterial wilt disease

Download pdf,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *