UJI ADAPTASI ENAM NOMOR LEMPUYANG DI TIGA LOKASI

UJI ADAPTASI ENAM NOMOR LEMPUYANG DI TIGA LOKASI

Sri Wahyuni,N. Bermawie, D. Seswita, Repianyo dan T. Sugandi

ABSTRAK

Lempuyang banyak digunakan oleh masyarakat untuk obat/jamu sebagai peningkat stamina, anti kanker dan obat anti infeksi. Diberlakukannya UU No. 13 tahun 2010 tentang Hortikultura, dan Permentan No. 38/Permentan/OT.140/7/2011 tentang Pendaftaran Varietas Tanaman Hortikultura, maka varietas yang akan didaftarkan harus memiliki hasil uji keunggulan varietas dan uji kebenaran varietas. Untuk mengetahui keunggulan varietas dilakukan dengan uji adaptasi untuk mendapatkan data varietas tersebut unggul pada spesifik lokasi atau di banyak tempat. Seleksi/evaluasi terhadap koleksi plasma nutfah lempuyang telah diperoleh beberapa nomor yang mempunyai potensi produksi 15 ton/ha, kadar minyak atsiri 1% dan kadar zerumbone 40%. Penampilan morfologi (visual) tanaman dapat dibedakan. Selanjutnya sebanyak 5 nomor terpilih dilakukan uji adaptasi di tiga lokasi yaitu di Cibinong – Bogor, Karanganyar – Jateng dan Kulon Progo DIY. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan empat ulangan, dan jumlah tanaman per plot 30 tanaman. Hasil pengamatan pertumbuhan pada umur 6 bulan setelah tanam menunjukkan bahwa terdapat variasi dalam pertumbuhan tanaman yaitu pada karakter tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang daun, lebar daun dan jumlah daun per batang. Pertanaman di Karanganyar mempunyai pertumbuhan tinggi tanaman dan ukuran daun lebih tinggi dibanding di kedua tempat lainnya, namun untuk karakter jumlah anakan, pertanaman di Cibinong mempunyai jumlah anakan yang paling banyak. Produksi rimpang berbeda di setiap lokasi. Pertanaman di Kulon Progo menghasilkan produksi yang paling rendah dibanding di kedua tempat lainnya. Kisaran produksi tanaman adalah 11.3 – 24.3 t/ha. Genotipe LP6 dan LP13 mempunyai produksi yang lebih tinggi dibanding genotipe lainnya. Mutu proksimat rimpang yang ditanam diberbagai lokasi tidak jauh berbeda. Perbedaan mutu proksimat adalah pada kadar serat rimpang yang dipengaruhi oleh faktor genetik tanaman. Lempuyang LP 2 dan LP 13 mempunyai kandungan serat yang lebih tinggi dibanding nomor lainnya. Kadar minyak atsiri dari simplisia kering (kadar air <10%) adalah 0.98-1.36%. Mutu kandungan kimia rimpang utama diantaranya adalah zerumbon, humulene, bisabolene, linalool dan eudesmol. Kandungan zerumbon pertanaman dari Kulon Progo umumnya lebih rendah dibanding pertanaman di dua tempat lainnya. Sepertinya mutu kandungan kimia ini utamanya dipengaruhi oleh faktor genetik. Nomor yang mempunyai kandungan zerumbon atau linalool tinggi bila ditanam di lokasi yang berbeda akan memperlihatkan kandungan yang tingi pula, sebaliknya genetik yang mempunyai kandungan kimia lebih rendah akan menghasilkan nilai yang lebih rendah pula.

Kata kunci: uji adaptasi, lempuyang, Zingiber aromaticum

ABSTRACT

Lempuyang (wild ginger, aromatic ginger) is one of Zingiberaceae family, people use of this plant as medicine for stamina improvement, anti cancer and anti infection. According to UU No. 13 year 2010 about Horticulture, and Permentan No. 38/Permentan/OT.140/7/2011 for horticulture variety registration. The releasement can be carried out if already fulfill the requirement such as the avaibility of pedigree information, standar for cultivation technique, superiority evidence data, seed availability and plant description Its also already tested for variety fidelity. Adaptation test in several location is the way to provide  superiority evidence data. Fifteen collection numbers of wild ginger which have been collected from several area have been observed for the character of morphologycal, rhyzome constituent, and the yield potential aim to selected the best material for adaptation test. Five selected accessions then observed for adaptation test at three locations (Cibinong-Bogor, Karanganyar-Central Java, Kulon Progo-DIY). Design for adaptation test using randomized block design, four replications and consist of 30 plants for each plot. Observation result showed that wild ginger which observed at sixth-month growth condition varied in plant height, numbers of tillers, numbers of leaves, leaves length and leaf width. Plant cultivated at Karanganyar have higher plant height compare to plantation at two others places but plantation at Cibinong have higher in numbers of tillers. Rhizome yield were different among the location. Range of rhizome yield per ha predicted 11.3–24.3 ton. The lower yield wass the plant that cultivated at Kulon Progo, moreover plantation at Cibinong and Karanganyar have most similar yield. Genotipe LP6 and LP13 have a higher yield compare to others genotype tested. The proximate rhyzome quality was most similar among three locations, except the ash and fibre content. Plant cultivated at Karanganyar tend to have higher ash and fibre content. Moreover, genotype LP2 and LP 13 also tend  to have higher fibre content, and it can be noticed visually from flesh rhyzome. The essential content of dry simplicia (water content <10%) were range from 0.98 – 1.36%. Major chemical constituent identified using GCMS of wild ginger are zerumbon, linalool, humulene, bisabolene, and eudesmol. Wild ginger which planted at Kulon Progo tend to have zerumbon content lower than plantation at Cibinong and Karanganyar. Chemical constituent quality seems influence by genetic factor also. The genetic which have higher zerumbon and linalool  when planted in different location have a higher quality also. On the other hand, genetic which have lower chemical constituent performed a lower value also if planted in another places.

KeywordS: Germ plasm,  wild ginger,  Zingiber aromaticum

Download pdf,

3 thoughts on “UJI ADAPTASI ENAM NOMOR LEMPUYANG DI TIGA LOKASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *