BALITTRO Ikut Berpartisipasi Dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Perpustakaan Pertanian Berbasis Inklusi Sosial

Pengembangan Perpustakaan Pertanian Berbasis Inklusi Sosial merupakan rangkaian Program PUSTAKA sebagai salah satu bagian dari Gerakan Literasi Tahun 2020 dan Kegiatan Grand Launching Museum Tanah dan Pertanian. Acara dilaksanakan di Museum Tanah dan Pertanian Jl. Ir. H. Juanda Bogor yang dihadiri Dra. Nur Maslahah, MSi. dan Rushendi, M.Si dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) dan para Pejabat Eselon IV yang membidangi bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi pada UK/UPT Badan Litbang Kementerian Pertanian (2/03).

Acara diawali pemaparan kondisi Pengembangan Perpustakaan Pertanian Berbasis Inklusi Sosial, yang disampaikan oleh Dr. Riko Bintari Pertamasari, M.Hum  (Kabid Perpustakaan, PUSTAKA). Melalui pemaparannnya bahwa UK/UPT diharapkan mendukung PUSTAKA yang sekarang sudah bekerjasama dengan Perpusnas untuk memberdayakan masyarakat di daerah khususnya daerah pertanian dalam berinklusi sosial. Perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian diupayakan terakreditasi melalui anggaran yang bersumber dari APBN Perpusnas maupun dengan biaya sendiri dan juga Sumber Daya Manusia nya harus menguasai Teknologi. Fungsi dari PUSTAKA yaitu : sebagai tempat pendidikan, penelitian, informasi, pelestarian dan tempat rekreasi dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan keberdayaan bangsa. Strategi Transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu adanya  rencana yang terstruktur, aksi yang nyata dan indikator yang jelas. Rencana ke depan PUSTAKA yaitu layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial berupa POS TANI dan juga PUSTAKA On The Spot untuk pertanian yang maju, modern dan mandiri yang mensejahterakan para petani. Menyampaikan Gerakan Literasi di Sekolah berupa pertanian masuk sekolah.

Materi kedua Perpustakaan Kemendikbud Menuju Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, di sampaikan oleh Chaidir Amir, S.SOS, MA ( Pustakawan Ahli Muda Kemendikbud). Sebenarnya di tahun 2004-2005 konsep Inklusi Sosial sudah dijalankan oleh perpustakaan Kemendikbud. Di era 1.0 sampai 4.0 (era industry) saat ini terjadi perubahan paradigma yang signifikan yaitu dari manual ke era digital misalnya di dunia pendidikan yang era 4.0 ini ada aplikasi berupa ruang guru, Zenius dan Quipper yang era sebelumnya berupa tempat off line (primagama) dan juga juga perubahan di dunia transportasi dengan adanya Gojek, dll. Pencarian informasi secara cepat melalui search engine yaitu Google, Bing, dan Yahoo. Paradigma baru abad 21 antara Google Vs Library, antara Koleksi dan Koneksi. Ada 3 Fungsi perpustakaan Kemendikbud yaitu: Sebagai sumber rujukan, deposit dan sebagai sumber belajar bagi masyarakat. Sebagai sumber Rujukan, perpustakaan Kemendikbud sebagai sumber referensi yang valid dan juga pustakawan harus dibekali kemampuan literasi digital yang baik, dan perpustakaan sebagai pusat referensi bidang pendidikan dan kebudayaan. Adanya aplikasi SIKOPER yang mengintegrasikan SliMS, eprint, OJS, IOS, Google dan Wordcat.

Perpustakaan Kemendikbud sebagai sumber deposit yaitu seluruh terbitan di UK/UPT di dokumentasikan di Kemendikbud agar karya bangsa tetap dimiliki yang utama di era 4.0 ini adalah memiliki data, informasi, dan pengetahuan. Bukan hanya memiliki kekayaan alam, teknologi dan modal saja. Perpustakan Kemendikbud sebagai pusat sumber belajar bagi masyarakat luas dalam mencari informasi yang mereka butuhkan yang berbasis inklusi sosial harus ada sarana yang memadai. Jumlah Kegiatan yang telah dilakukan oleh perpustakaan Kemendikbud selama 3 tahun yaitu: Tahun 2017 ada 212 Kegiatan, tahun 2018 ada 299 kegiatan, dan tahun 2019 sebanyak 291 kegiatan. Kegiatan tersebut antara lain berupa: o membaca cerita atau dongeng untuk menteri yang baru, o Workshop tata rias pengantin.

Arahan Kepala Pustaka Dr. Retno Sri Hartati Mulyandari, M.Si  bahwa ada satu hal yang sangat penting dengan program untuk mendekatkan dengan user yaitu Briging invensi menuju inovasi yang melibatkan stackholder dari hulu sampai hilir, pengawalan pemasaran dengan tujuan mensejahterakan petani. Kepala Pustaka juga mengimbau harus ada kolaborasi untuk menciptakan invensi-invensi yang baru serta konten pertanian harus masuk ke taman baca dan Sekolah-sekolah lingkungan sekitar bahkan sampai Perguruan Tinggi. Mendokumentasikan informasi di big data yang dapat dimanfaatkan oleh end user yang dapat dimasukkan di repository pertanian sebagai virtual office. PUSTAKA telah diberi amanah untuk mengelola dan menyebarkan informasi tersebut ke masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *