Bimbingan Teknis (BIMTEK) Budidaya (GAP) Tanaman Pala Di Desa Cikelat Kabupaten Sukabumi dan Desa Babakan Kabupaten Purwakarta

Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya (Good Agriculture Practices) tanaman Pala pada tanggal 24 – 25 Pebruari 2020 di dua lokasi yaitu Desa Cikelat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi dan Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta. Sebagai narasumber adalah Rudi Suryadi, SP.M.Si dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro).

Bimtek di Desa Cikelat dihadiri oleh Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Kabupaten Sukabumi, dan Kepala Desa Cikelat. Pada sambutannya Kepala Bidang Perkebunan Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa Bimtek Budidaya (GAP) tanaman pala ini merupakan bekal pengetahuan untuk petani dalam pembuatan demplot Budidaya pala di Desa Cikelat seluas 6 Ha yang akan dilaksanakan tahun ini. Bimtek di ikuti oleh petani pala di Desa Cikelat sebanyak 35 orang yang tergabung dalam Kelompok Tani Bina Sejahtera yang diketuai oleh Bapak Yayan.

Pertanaman pala yang berada di Desa Cikelat seluas 24 ha terdiri dari 15 ha tanaman sudah menghasilkan (TM), dan 9 ha tanaman belum menghasilkan (TBM). Produktivitas tanaman palanya masih rendah yaitu 200 kg/ha/tahun dan masih berpotensi untuk ditingkatkan dengan penggunaan bahan tanaman yang unggul hasil perbanyakan vegetatif (sambung pucuk) dan penerapan budidaya tanaman pala yang baik (GAP). Sampai saat ini bahan tanaman yang digunakan oleh petani adalah hasil perbanyakan generatif (biji) dengan sumber benih yang tidak jelas keunggulannya. Pembungaan pala adalah berumah dua sehingga dikenal dengan pohon jantan, pohon betina, dan pohon hermaprodit serta belum bisa diketahui pada stadia masih benih walaupun banyak informasi kearifan lokal yang dapat mengetahui dari stadia masih benih. Bapak Yayan (Ketua Poktan) telah membuktikan sulitnya menentukan saat stadia benih, yaitu dengan memilih 30 benih pala yang diperkirakan akan menjadi pohon betina berdasarkan pengetahuan kearifan lokalnya tetapi kenyataannya setelah berbunga hanya 15 pohon yang berbunga betina dan 15 pohon berbunga jantan

Oleh karena itu solusi untuk mengatasi permasalah ini adalah dengan penyambungan (sambung pucuk). Para petani pala juga menginformasikan bahwa selama ini tunas air/wiwilan/ortotrop yang tumbuh pada pohon pala betina dibuang. Setelah mendapatkan pengetahuan dari bimtek ini, tunas ortotrop tidak akan dibuang lagi tetapi akan dimanfaatkan sebagai batang atas/entres. Setelah penyampaian materi Bimtek selanjutnya dilakukan praktek sambung pucuk yang diikuti oleh seluruh peserta dan disaksikan oleh Kabid Perkebunan Provinsi Jabar dan Kabupaten Sukabumi beserta staf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *