Manajemen Pemupukan Nilam dalam Upaya Pertanian Berkelanjutan

Nilam (Pogostemon cablin Benth) tumbuh dan berproduksi baik pada tanah yang subur, gembur, dan banyak mengandung bahan organik. Jenis tanah yang baik adalah regosol, latosol, dan aluvial. Tekstur tanahnya liat berpasir atau liat berdebu dan mempunyai daya resapan yang baik dan tidak tergenang air pada musim hujan. Untuk menghasilkan daun nilam dengan kandungan minyak yang tinggi diperlukan sinar matahari penuh. Menurut Rosman peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dalam buku Monograf Nilam (1998), ketinggian tempat yang sesuai untuk budidaya nilam mulai dataran rendah sampai ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl), dan optimum pada 100-400 m dpl. Di dataran rendah, kadar minyak lebih tinggi daripada didataran tinggi, sebaliknya kadar patchouli alkohol lebih rendah. Curah hujan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman nilam berkisar 2300 – 3000 mm /tahun dengan penyebaran yang merata sepanjang tahun. Kelembapan udara, suhu, dan pH yang sesuai untuk pertumbuhan nilam masing-masing 70-90%, 24-28oC, dan 5.5-7.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) memperlihatkan bahwa nilam diusahakan oleh lebih dari 65.000 petani dengan luasan lahan 24.718 ha yang tersebar di beberapa provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur serta Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Nilam dikenal sebagai tanaman y a n g s a n g a t r e s p o n s i f t e r h a d a p pemupukan. Menurut Dhalimi dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dalam buku Monograf Nilam (1998), serapan unsur hara pada nilam tergolong cukup tinggi, yaitu N 5,6%, P2O5 4,9%, K2O 2,8%, CaO 5,3%, dan Mg 3,4%. Dengan rata-rata produksi bahan kering 4 ton/ha/tahun, unsur hara yang terangkut masing-masing sebanyak 232kg N, 196 kg P2O5, 120 kg K2O, 212 kg Ca dan 135 kg Mg. Tingginya unsur hara yang terangkut setiap panen dan biomas yang hampir tidak pernah dikembalikan ke tanah menyebabkan produktivitas menurun. Untuk menjaga agar budi daya nilam berkelanjutan maka pemupukan pada budi daya nilam perlu mendapat perhatian khusus . Manajemen pemupukan yang sudah diterapkan pada tanaman padi yang dikenal dengan istilah 5 T yaitu tepat waktu, tepat dosis, tepat jenis, tepat cara, dan tepat tempat pantas dipertimbangkan pada tanaman nilam.

Tepat waktu

Berbeda dengan tanaman pangan, seperti padi yang memiliki dua fase pertumbuhan yaitu fase vegetatif dan fase generatif, nilam hanya memiliki satu (fase vegetatif). Nilam yang banyak dibudidayakan merupakan jenis tanaman yang tidak berbunga. Nilam dapat dipanen sebanyak 3 kali dalam setahun, yaitu pada umur 6 bulan setelah tanam dan setiap 3 bulan berikutnya. Beberapa hasil penelitian memperlihatkan pemupukan nilam sebaiknya dilakukan sebanyak 5 kali selama setahun. Pertama, pemupukan dasar yaitu dengan memberikan pupuk organik dan pupuk anorganik. Kedua, pemupukan anorganik susulan pertama dilakukan pada saat tanaman sudah berumur satu bulan setelah tanam di lapangan. Ketiga, pemupukan susulan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 3 bulan setelah tanam. Keempat, pemupukan susulan ketiga setelah panen pertama yang diikuti dengan pembumbunan. Kelima, pemupukan susulan keempat dilakukan setelah panen kedua (Tabel 1).

 

Tepat dosis

Nilam dikenal sangat responsif terhadap pemupukan dan mampu menyerap unsur hara yang tinggi sehingga pupuk yang diberikan harus mampu memberikan hasil nilam yang optimal. Selain itu, pemupukan pada nilam untuk mempertahankan tingkat kesuburan tanah agar dapat menjadi usaha tani yang berkelanjutan. Pupuk yang diberikan minimal harus sama dengan pupuk yang terangkut tanaman melalui biomass.

 

Tepat jenis

Secara garis besar pupuk dibagi menjadi 2 jenis, yaitu pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung kita yang akan menggunakannya. Penggunaan pupuk disesuaikan dengan kondisi pertanaman. Sebagai contoh, dalam pertumbuhan awal tanaman memerlukan pertumbuhan akar yang cepat dan batang yang tegar untuk menopang tubuhnya maka unsur hara yang diberikan adalah yang memiliki fungsi tersebut. Pupuk SP-36 dan KCl dapat diberikan sebagai pupuk dasar, sedangkan pupuk N diberikan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman (batang dan daun).

 

Tepat Cara

Ada dua cara yang baik untuk memupuk nilam yaitu dengan cara tugal dan larikan. Setelah pupuk dimasukkan ke dalam lubang atau larikan, segera ditutup tanah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kehilangan pupuk akibat penguapan.

 

Tepat Tempat

Tempat pemberian pupuk me rupakan sala h satu faktor keberhasilan dalam pemupukan. Jauh dekatnya tempat pemberian pupuk ke dalam tanah dan perakaran tanaman akan berpengaruh terha dap efisiensi pemupukan. Sebaiknya, pemupukan diberikan sekitar tajuk tanaman. Nilam merupakan tanaman yang memiliki perakaran yang pendek dan dangkal sehingga pupuk diberikan di sekitar tajuk tanaman. Untuk menjaga agar budi daya n i l a m m e n j a d i u s a h a t a n i y a n g berkelanjutan, usaha-usaha untuk memperhatikan tingkat kesuburan tanah tersebut perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan hal tersebut, p e m u p u k a n n i l a m s e b a i k n y a memperhatikan “5 tepat” yaitu tepat waktu, tepat dosis, tepat jenis, tepat cara, dan tepat tempat. Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya nilam khususnya dalam pemupukan harus memperhatikan “5 tepat” tersebut. Dalam rangka meningkatkan efisiensi pemupukan pada nilam, perlu dilakukan penelitian yang mengarah pada efisiensi pemupukan, antara lain pemakaian mikoriza dan pemakaian nitrit inhibitor alami.  (Setiawan. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Email: era2243@yahoo.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *