Benih Bermutu Lada: Awal Sukses Keberhasilan

Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu jenis rempah yang paling penting diantara rempah-rempah lainnya (Kingof Spices), baik ditinjau dari segi perannya dalam menyumbangkan devisa negara maupun dari segi kegunaannya yang sangat khas dan tidak dapat digantikan dengan rempah lainnya. Indonesia memiliki peran yang sangat penting dengan kemampuan memasok sekitar 80% dari kebutuhan lada dunia sebelum Perang Dunia II. Bahkan sampai tahun 2000 Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil utama lada dan mempunyai peranan penting dalam perdagangan lada dunia. Namun saat ini tergeser oleh kegigihan Vietnam dan Brasil dalam mengembangkan tanaman lada yang sangat intensif.

Di Indonesia, sentra tanaman lada banyak terdapat di provinsi Bangka Belitung, Lampung, dan Kalimantan. Namun tak banyak yang mengetahui tanaman lada saat ini mulai berkembang di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Purbalingga. Menurut Bapak Yogya ketua Asosiasi Petani Lada Purbalingga (ASPALAGA) desa Kedarpan, kecamatan Kejobong, kabupaten Purbalingga, tanaman lada di Purbalingga mulai ditanam sejak tahun 1985 yang di bawa dari Lampung oleh seorang transmigran  yang sedang pulang kampung. Pada saat ini tanaman lada di Purbalingga berkembang di 3 kecamatan yaitu  Kejobong, Kaligondang dan Pengadegan, bahkan banyak terdapat juga di kabupaten Banjarnegara, dengan luas areal mencapai 456 ha dengan produksi 652 ton per tahun. Produktivitas lada di Purbalingga masih rendah dengan rata-rata 1 – 2 kg per pohon/tahun.

 Pengamatan dari kunjungan lapang IPC (International Pepper Community) dan Balitbang Pertanian di desa Kedarpan, kecamatan Kejobang, rendahnya produksi lada di Purbalingga disebabkan belum teradopsinya teknologi GAP tanaman lada, antara lain penggunaan benih yang benar. Pertumbuhan tanaman di lapang yang menunjukkan tanaman “jengky”  hal  tersebut disebabkan oleh penggunakan benih yang  berasal dari sulur cacing atau sulur gantung, yang tidak direkomendasikan dalam SNI benih lada. Bila sulur cacing atau gantung di gunakan sebagai bahan tanaman maka selama dalam persemaian tidak terbentuk akar lekat. Setelah di tanam di lapang, tanaman lada yang berasal dari sulur cacing/sulur gantung akan terbentuk akar lekat setelah pertumbuhan tanaman mencapai 1 atau 1,5 m sehingga tanaman terlihat jengky. Selain itu pada tanam yang berasal dari sulur gantung atau cacing terbentuknya cabang buah akan lama. Para petani lada di lapang juga membiarkan sulur gantung dan sulur cacing tumbuh, padahal dari sulur ini tidak akan tumbuh cabang buah.

Untuk pengembangan dan peningkatan produktivitas lada di Purbalingga,  Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan IPC, telah melakukan kegiatan secara langsung perbaikan mutu benih lada dengan membuat denplot produksi benih lada sesuai dengan  GAP.  Bahan tanaman lada di ambil dari Kebun Induk Lada KP. Sukamulya, dan denplot dilaksanakan oleh kelompok tani lada  ASPALAGA dengan membuat persemaian sebanyak 5.000 polibeg. Selain itu juga para penangkar melakukan pembuatan persemaian dengan teknologi yang sama, dengan bahan tanaman yang diambil dari kebun ladanya sendiri yaitu dengan menggunakan sulur panjat.

Hasil persemaian di kelompok tani ASPALAGA, 85% lada yang di bibitkan dapat tumbuh dengan baik yang di tandai dengan pertumbuhan tunas, daun dan akar lekat.  Hal yang lebih menarik adalah persemaian yang terdapat di penangkar keberhasilannya lebih dari 95%.  Hasil persemaian ini di harapkan akan di tanam pada musim tanam 2014 sekitar November atau Desember.  Transfer teknologi pembibitan ini diharapkan para petani atau penangkar tidak lagi memproduksi benih yang berasal dari sulur cacing atau sulur gantung karena akan merugikan konsumen. Apalagi bila benih yang tidak sesuai dengan SNI benih lada diperjual belikan atau menjadi bahan pengadaan pemerintah, untuk hal tersebut perlu kerjasama yang baik antara petani, penangkar, instansi yang terkait dengan pengawasan mutu benih. (Sukamto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *