Perwakilan Balittro mengikuti “Workshop Membangun Peneliti Tangguh melalui Digitalisasi Sistem Penilaian Kinerja”

Workshop ini diadakan oleh Badan Litbang Kementerian Pertanian untuk menyamakan persepsi TP2U, Tim Asesor Balai dan Peneliti mengenai SK LIPI nomor 12426/K/KP/X/2019 tanggal 12 Oktober 2019 tentang perhitungan formasi dan pemutakhiran data di e-peneliti, proses pengusulan dan penilaian angka kredit tahunan wajib dilakukan melalui aplikasi e-peneliti versi 1.0.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari pada tangal 7-8 November 2019 di Hotel Olympic Renotel, Sentul. Acara diselenggarakan oleh Badan Litbang Kementerian Pertanian yang diprakarsai oleh MAPI (Majelis Asesor Peneliti Instansi), dengan mengundang narasumber dari Pusbindiklat LIPI dan Biro Organisasi dan Kepegawaian Kementerian Pertanian. Pada acara tersebut Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat diwakili oleh Ka Balai, Ka TU, Tim Asesor Peneliti Balittro dan Para Ketua Kelti. Acara dibuka oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian, yang mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian. Materi workshop terdiri dari penelusuran HKM (Hasil Kerja Minimal) dan strategi menjadi peneliti berkualitas disampaikan oleh Prof. Dr. Gono Semiadi; Aplikasi e-peneliti, penyamaan persepsi unsur-unsur penilaian, dan e-formasi (Perka LIPI 13/2019) disampaikan oleh Pusbindiklat LIPI, serta ABK online disampaikan oleh Biro Organisasi dan Kepegawaian Kementerian Pertanian.

Dalam arahannya pada pembukaan acara, Sekretaris Balitbangtan menyampaikan perlunya alokasi anggaran untuk memfasilitasi tim TP2U Puslit/Puslitbang/Balai Besar; persepsi penilaian TP2U, antar UK dan antar tim asesor dibuat terstandar; Kapus dan Kabid Programnya harus memfasilitasi kegiatan penelitian di setiap balainya agar dapat membuat SKP setiap tahun; MAPI dan TP2U disarankan untuk membuat tahapan-tahapan kegiatan untuk mengatasi para peneliti yang tidak dapat naik jenjang karena tidak ada formasi; serta SOP penilaian agar dipercepat waktunya begitupula permasalahan di UK/UPT agar dipetakan sehingga dapat diminimalisasi dan bagi para peneliti diharuskan menghasilkan produk.

Sementara arahan Ka Badan di penghujung agenda hari pertama menyampaikan bahwa UK/UPT harus menghitung kembali formasi jabatan dengan tepat, jangan sampai ada peneliti yang terhambat kenaikan pangkatnya. Kepada para peneliti Ka Badan juga mengingatkan bahwa tujuan penelitian tidak sebatas pada output tetapi harus sampai outcomes. Oleh karena itu kegiatan yang dilakukan harus mendukung program Kementan bukan semata kepentingan individu peneliti.

Ekosistem riset abad 21 mendorong perilaku yang lebih intens antara industri dan aktivitas riset, membangun relasi saling membutuhkan dan menguntungkan sehingga ketergantungan semakin meningkat. Oleh karena itu seorang peneliti dituntut menghasilkan penelitian invensi dan bekerjasama dengan industri untuk mampu menghasilkan produk yang dapat diadopsi oleh masyararakat luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *