Selayang Pandang Pengembangan Pala di Desa Treman, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara

Sebagian besar petumbuhan ekonomi Minahasa Utara sangatn bergantung pada sektor pertanian khususnya komoditas pala. Kecamatan Kauditan merupakan produsen pala terbesar di Kabupaten Minahasa Utara,  di daerah ini pala dihasilkan hampir di semua desa di kecamatan tersebut karena

menguntungkan petani dan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif karena mampu bersaing dalam hal produksi dan harga dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya. Biji pala dari kecamatan Kauditan dipasarkan untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

 

Budidaya

Pada umumnya tanaman pala yang dimiliki petani di Kecamatan Kauditan adalah tanaman yang sudah berproduksi (Gambar 1), berumur di atas 5 tahun, dengan kepemilikan kurang dari 200 batang/petani (1 sampai 2 ha), dan diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat. Kebanyakan pohon pala yang dimiliki adalah hasil warisan dari orang tua atau keluarga yang ditanam di masa lalu, sedangkan penanaman atau peremajaan sangat terbatas. Jarak tanam pala di daerah ini adalah 4 sampai 6 meter antar pohon, ditumpangsarikan dengan tanaman perkebunan lainnya seperti kelapa dan tanaman berkayu. Dengan kondisi demikian maka kanopi antar tanaman saling tumpang tindih. Benih pala diperoleh petani dari pohon yang mereka miliki, dipilih dari tanaman yang menghasilkan biji yang mereka anggap paling bermutu meskipun sebenarnya benih tersebut merupakan benih asalan. Kondisi ini dan adanya serangan hama penggerek batang menyebabkan produktivitas dan mutu pala di daerah ini semakin menurun, dan berdampak pada penurunan luas lahan pala yang sangat signifikan. Baru beberapa tahun belakangan ini, dengan adanya bantuan bibit dari Dinas Pertanian Minahasa Utara dan kenaikan harga pala yang signifikan maka penduduk mulai melakukan rehabilitasi tanamannya.

 

Serangan hama dan penyakit

Hama dan penyakit yang menyerang tanaman pala di Minahasa Utara adalah penggerek batang pala dan, penggulung pucuk di pembibitan (Gambar 2), pecah buah muda dan tua (Gambar 3 ). Hasil pengamatan menunjukkan serangga hama di pertanaman pala di desa Treman hanya menyebabkan kerusakan ringan, akan tetapi bila dibiarkan tanpa pengendalian serangan akan meluas dan mengancam pertanaman yang akan mengakibatkan kematian pada tanaman pala sehingga dampaknya produksi akan menurun.

 

Produksi

Di Minahasa Utara, pala dalam  bentuk biji dipisahkan dengan buah dan fulinya (Gambar 4). Dari informasi yang  diperoleh dan pengambilan sampling beberapa tanaman, diketahui rata-rata produksi adalah 310.7 kg/ha/tahun (Lidya MG dkk, dalam Jurnal Unsrat, 2013). Informasi dari ketua Gapoktan

Klabat (Bpk. Frederik Maramis), harga  biji pala kering dan fuli perkilogramnya adalah Rp. 120.000,-.

 

Pemasaran

Pala di Minahasa Utara dijual dalam bentuk biji pala dan fuli kering berdasarkan grading yang dilakukan oleh pedagang. Umumnya petani menjual palanya kepedagang pengumpul, yang kemudian dijual ke agen di Manado, seterusnya pala dibawa ke Surabaya untuk diekspor ke negaranegara, Asia seperti Singapura, Jepang,  dan Belanda dengan persyaratan mutu ekspor yang ketat. Berdasarkan informasi yang diperoleh, mata rantai perdagangan pala yang panjang (sampaiempat strata) memberi keuntungan bagi pedagang perantara dan para broker pala internasional yang berada di Singapura. Pala Minahasa Utara yang diminati oleh eksportir dari negara-negara Eropa adalah pala siau karena mempunyai aroma yang sangat khas dan telah diakui pasar internasional karena itu kemudian eksportir memberi istilah siau nutmeg untuk pala jenis ini.

 

Sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Treman

Pola kemasyarakatan penduduk desa Treman penuh dengan rasa kekeluargaan dan peduli terhadap sesama dalam suka dan duka, dan mapulus/ gotong royong. Hal ini, disebabkan karena sebagian penduduk masih mempunyai hubungan keluarga sehingga desa ini dikenal sebagai “desa teranak”.Dalam mendukung kerukunan beragama di desa Treman, Hukum Tua telah membentuk satu wadah resmi yaitu forum komunikasi antar umat beragama (FKAUB) di mana antara pemeluk agama yang ada di desa saling bekerja sama terutama dalam hal pelayananan keagamaan. Penduduk/masyarakat Desa Treman sebagian besar adalah petani, untuk itu demi terorganisirnya pengelolaan pertanian maka dibentuklah kelompokkelompok tani menurut bidang masingmasing, yaitu (1) kelompok tani tanamam keras (kelapa, pala, cengkeh dll), (2) kelompok tani jagung, cabe, tomat, (3) kelompok tani sawah, (4) kelompok tani buah-buahan, (5) kelompok tani pohon jarak, dan (6) kelompok tani ikan air tawar dan dari, kelompok tani yang ada di Desa Treman dibentuk menjadi 1 organisasi induk yaitu Gapoktan dengan nama Gapoktan Klabat Kecamatan Kauditan. Untuk menunjang perekonomian masyarakat setempat, telah dibentuk koperasi unit desa (KUD Klabat) koperasi simpan pinjam. Sarana dan prasarana di desa ini seperti jalan menuju lahan pertanian atau kebun cukup terawat karena adanya gotong royong, yaitu program kerja bakti setiap bulan. Hal tersebut sangat menunjang kelancaran trasnportasi dari sentra-sentra produksi pertanian demi membantu para petani dalam peningkatan perekonomian rakyat.

 

Kendala perdagangan pala

Manurut informasi petani setempat, mereka sering menghadapi kendala dalam pemasaran produk pala, di antaranya adalah (1) terdapat perbedaan margin harga jual yang sangat besar antara harga jual yang diterima petani dengan harga eksportir, (2) panjangnya rantai tata niaga menyebabkan harga jual yang diterima petani sangat rendah, (3) belum adanya peraturan dan institusiyang mengatur perdagangan dan harga jual pala baik di tingkat nasional maupun internasional, (4) pala yang dihasilkan sering terkontaminasi jamur, hal ini menyebabkan petani pala di daerah ini mempunyai posisi tawar yang sangat rendah, (5) kurangnya pengetahuan petani tentang pascapanen pala dan diversifikasi produk pala, umumnya petani memanen buah yang sudah tua dan diolah menjadi bentuk biji pala kering dan fuli, (6) serangan hama dan penyakit, terutama hama penggerek batang yang merupakan masalah utama dan penyakit pecah buah muda dan tua dalam budidaya pala. Saat ini petani belum melakukan pengendalian pada tanaman yang terserang sehingga penyebaran hama dan penyakit tersebut semakin mengkhawatirkan. (Tri Eko Wahyono dan Cucu Sukmana) (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Email: te_wahyono@yahoo.com

2 thoughts on “Selayang Pandang Pengembangan Pala di Desa Treman, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara

  • Senin April 23rd, 2018 at 01:10
    Permalink

    Petani sangat beruntung dan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif karena mampu bersaing dalam hal produksi dan harga dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya.
    Oya biji pala biasanya di pasarkan dimana?
    Dan jika di produksi apa saja manfaatnya biji pala ini?

    Reply
    • Kamis Agustus 9th, 2018 at 04:55
      Permalink

      Terima kasih sudah berkunjung ke website Balittro, untuk selanjutnya dapat menghubungi upbs center di no 082260370004

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *