Teknik Perbanyakan Tanaman Sanrego

Sanrego (Lunasia amara) merupakan tanaman obat potensial yang berasal dari Kawasan Timur Indonesia (KTI). Saat ini status tanaman tergolong langka. Tanaman ini digunakan dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Pramudiarja, 2012). Bagian tanaman  yang umum digunakan adalah akar, batang, dan daun.

Ta n a m a n s a n r e g o d i y a k i n i masyarakat sebagai obat afrodisiak. Afrodisiak adalah suatu zat atau obat yang dapat membangkitkan ataun meningkatkan gairah seksual. Secara  umum, tanaman yang mempunyai efek afrodisiak mengandung senyawa kimia turunan saponin, alkaloid, tanin, dan s e n y a w a l a i n n y a y a n g d a p a t meningkatkan peredaran darah dalam tubuh sehingga memperbaiki fungsi organ. Dengan lancarnya peredaran darah, akan mengaktifkan kerja syaraf  pusat sehingga tubuh menjadi bertenaga  dan kuat. Hasil survey pada masyarakat di Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa sanrego juga terbukti mampu mengobati impotensi. Selain bermanfaat sebagai a f r o d i s i a k , s a n r e g o j u g a s e r i n g digunakan sebagai obat malaria,diabetes, dan gigitan ular.

Klasifikasi dan deskripsi Tanaman

Secara taxonomi, klasifikasi sanrego adalah: Kingdom: Viridiplantae, P h y l u m : S t r e p t o p h y t a , O r d o : Sapindales, famili: Rutaceae, Genus: Lunasia, dan spesies: Lunasia amara (Grin Taxonomy for Plants, 1996). Habitus sanrego berbentuk pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai sekitar 5 m (Gambar 1). Batang tegak, bercabang, dan daun agak kasar terutama pada bagian bawah. Tepi daun bergerigi dengan ujung meruncing. Kulit batang berwarna coklat. Bunga keluar dari tunas ketiak, berwarna kuning muda.

Kandungan Bahan Aktif

Hasil penelitian Prof. Dr. Muchsin Darise di Universitas Hasanudin Makasar pada tahun 1994, menunjukkan bahwa beberapa senyawa kimia dalam tanaman sanrego, yaitu 1) alkaloid yang berfungsi memperlancar urine, 2) senyawa sitosterol yang membentuk hormon steroid, dan 3) senyawa glikosida. Lebih rinci, De Padua et al. (1978 dalam Handbook on Phillipine Medicinal Plants,) menyatakan bahwa di  dalam genus Lunasia, terdapat senyawa a l k a l o i d p i r a n o – k u i n o l i n a y a i t u lunakrina, lunakridina, dan lunasina. Belum diketahui secara pasti, senyawa yang berkhasiat untuk afrodisiak pada sanrego, namun diduga senyawa alkaloid yang terdapat dalam ekstrak daun tanaman berpotensi dikembangkan sebagai afrodisiak.

Pemanfaatan sebagai Obat

Secara umum, bagian daun, ranting, dan akar sanrego dapat digunakan sebagai obat. Namun, penggunaan akar dipercaya masyarakat lebih efektif. Cara penggunaannya pertama semua bagian tersebut dicuci bersih, kemudian direndam dalam air hangat selama 15 menit, disaring baru diminum. Saat ini kapsul sanrego banyak dijual sebagai obat herbal dan banyak diminati oleh mkaum pria. Di Malaysia, sanrego juga dijadikan campuran herbal tongkat ali.

dan produk tersebut banyak diminati oleh masyarakat di luar negeri terutama di luar Asia Tenggara termasuk India(Pramudiarja, 2012). Mengingat potensi tanaman yang s a n g a t b a i k u n t u k a f r o d i s i a k , penggalakan penanaman sanrego di lahan-lahan kritis di seluruh Indonesia sebaiknya diprioritaskan. Dengan banyaknya lahan kritis di Indonesia baik di Kawasan Timur maupun Barat akan mendukung program pelestarian tanaman dan lingkungan hidup serta membuka lapangan kerja baru baik bagi petani maupun industri obat herbal.

Perbanyakan tanaman Sanrego diperbanyak secara vegetatif dengan cangkok dan setek. N a m u n k e b e r h a s i l a n t e k n i k pencangkokan lebih tinggi dibandingkan setek. Walaupun memerlukan waktu yang agak lama mulai dari awal proses sampai tanaman beradaptasi di rumah kaca (sekitar 5 bulan), tanaman sanrego hasil cangkok dapat tumbuh optimal (Gambar 2). Hasil pengamatan terhadap pohon induk sanrego di petak pamer Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), tidak ditemukan anakan yang berasal dari biji. Bunga yang sudah mekar tidak berhasil membentuk biji  karena gugur. Untuk tujuan perbanyakan benih, sebaiknya proses pencangkokan dilakukan dengan menggunakan pohon induk yang banyak sehingga target penyediaan dapat terpenuhi.

Mengingat sanrego merupakan tanaman yang tergolong langka, upaya perbanyakan bahan tanaman melalui teknik kultur jaringan dapat dijadikan alternatif. Balittro sedang merintis perbanyakan sanrego melalui kultur jaringan. Arlianti dkk. telah melakukan penelitian terebut dan hasil sementara menunjukkan bahwa media dasar berpengaruh terhadap keberhasilan tumbuh eksplan. Penggunaan media dasar WPM (Woody Plant Medium) yang diperkaya zat pengatur tumbuh ( z p t ) B e n z y l A d e n i n 0 , 1 m g / l memberikan respon yang positif dalam induksi tunas dan pertumbuhan (Gambar 3), dibandingkan dengan media dasar Murashige and Skoog (MS). Saat ini sedang diobservasi beberapa taraf konsentrasi Benzyl Adenin untuk memperoleh kisaran yang optimal dalam menginduksi tunas dan bermultiplikasi. Untuk mengoptimalkan kemampuan tumbuh biakan, sedang dilakukan optimasi penggunaan beberapa konsentrasi asam amino baik glutamin maupun casein hidrolisat. Untuk mendukung ketersediaan bahan tanaman, upaya perbanyakan tanaman dapat dimaksimalkan melalui t e k n i k p e n c a n g k o k a n d e n g a n keberhasilan sekitar 70%. Perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan masih dalam penelitian. Perbanyakan sanrego memerlukan waktu yang agak lama karena merupakan tanaman t a h u n a n y a n g m e m i l i k i d a y a m e r i s t e m a t i s y a n g r e n d a h b i l a diperbanyak secara in vitro. (Sitti Fatimah Syahid;Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat; Email : ifa_sy@yahoo.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *