TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN DAN TANAMAN NILAM MELALUI POLA TANAM

TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN DAN TANAMAN NILAM MELALUI POLA TANAM

R. Rosman, R. Suryadi, M. Djazuli, A Sudiman, dan W Lukman.

ABSTRAK

Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri. Hingga saat ini sebagian besar penanaman nilam dilakukan dengan pola berpindah-pindah dan produksinya <150kg/ha. Sistim tanam seperti ini harus dirubah dengan menerapkan sistim pola menetap. yang mampu meningkatkan kemampuan tanaman untuk berproduksi lebih tinggi lagi. Sejalan dengan program pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan, maka seyogyanya dibutuhkan teknologi yang sinergis antara tanaman nilam dengan tanaman pangan. Teknologi yang dibutuhkan untuk itu adalah pola tanam antara nilam dengan tanaman pangan. Teknologi ini akan mampu menciptakan terwujudnya pola tanam menetap. Selain itu, adanya penurunan hasil di setiap pertanaman nilam juga diduga oleh tindakan budidaya yang tidak memberikan perlakuan pembubunan. Untuk itu pembubunan dilakukan sekaligus pengguludan. Perlakuan pembumbunan diharapkan akan terbentuk akar-akar serabut yang baru dari bagian atas batang nilam sehingga peluang pertumbuhan yang lebih baik kemungkinan akan terjadi. Untuk mengetahui hal tersebut maka pada penelitian ini juga dilakukan pembubunan dengan sistim pengguludan sehingga diharapkan pertumbuhan dan produksi akan menjadi lebih baik. Penelitian bertujuan Mendapatkan teknologi pola tanam nilam dengan tanaman pangan yang mampu meningkatkan produksi nilam > 150 kg/ha dan pendapatan petani > 50%. Penelitian menggunakan Rancangan Anak Petak Terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama adalah dua Tingkat intensitas cahaya, masing-masing 1. 100% (Kontrol) dan 2. 80% intensitas cahaya (di bawah naungan ringan/ tegakan pohon pala). Anak petak adalah 3 perlakuan pola tanam nilam antara lain 1) monokultur nilam, 2) nilam jagung, 3) nilam kacang hijau dan anak-anak petak ada dua teknik pengguludan masing-masing (1). Tanpa pengguludan dan (2) dengan pengguludan seteleh panen pertama. Untuk tahun pertama pengaruh perlakuan pengguludan belum bisa ditampilkan karena perlakuan baru berjalan sekitar satu bulan. Hasil penelitian hingga umur 5 bulan 20 hari menunjukkan pertumbuhan dan produksi terbaik ada pada monokultur nilam. Adanya jagung dapat menghambat pertumbuhan tanaman nilam. Namun demikian jagung memberikan nilai tambah lebih cepat dalam hanya jangka waktu 3 bulan. Pola tanam nilam dengan jagung ataupun kacang hijau memberikan nilai tambah sebesar Rp. 4.750.000.(jagung) pada lahan terbuka diantara nilam dan Rp. 577.800.(Kacang hijau) pada lahan diantara nilam dan pala. Setelah umur lima bulan lebih 20 hari tanaman nilam di panen. Dari keseluruhan perlakuan, tiga perlakuan memberikan hasil nilam yang cukup baik yaitu pola monokultur nilam (764,5 gr/tan) diikuti pola tanam nilam + kac hijau (703,8 gr/tan) dan monokultur nilam (650,9 gr/tan) yang ditanam ternaungi oleh/diantara pala. Untuk lokasi yang telah ditanam dengan tanaman pala akan memberikan nilai tambah yang cukup besar dari hasil nilam yaitu Rp 6509000,-Jadi jelas bahwa pada lahan terlindung dengan intensitas cahaya yang cukup masih berpeluang untuk ditanam tanaman nilam. Disarankan untuk mendapatkan pola tanam yang optimal diperlukan penelitian pemupukan dan waktu panen nilam. Penelitian ini sebaiknya dilanjutkan hingga tahun 2012 untuk penyempurnaan SOP, terutama teknologi pola tanam nilam. Pada penelitian ini belum terlihat pengaruh pengguludan.

Kata kunci : Nilam, teknologi pola tanam

ABSTRACT

Patchouli is one of the essential oil crops. Untill now, planting of patchouli to do by shifting cultivation and production < 150 kg/ha. This system must be change. There for, a technology will be able to increase a productivity very needed. In line with the government program in support of food security, it should be a synergy between the technology needed patchouli plants with food crops To obtain a technology of cropping patern of patchouli with food crops and nutmeg was conducted a research at the experimental garden, Cicurug, from January until November 2011. Research was use split plot design, with twelve treatmens and three replication. Main plot was two level of light intensity, i.e, 100% light intesity and 80% light intensity (between nutmeg). Sub plot, 3 crop patterns ,i.e, patchouli, patchouli+corn, and patchouli+green bean, and sub-sub plot i.e tillage and no tillage.  Result of the research show that was patchouli can planted with corn, green bean and nutmeg. The treatmen of only patchouli crops with 100% light intensity was the best. Number of leaves was 683,03.per plant and produktion was 764,5 g/plant. The best of oil content of patchouli was 2,64% (The treatments of patchouli+corn, 100% light intensity) and the best of PA content was 37,99% (The treatments of patchouli+corn, between nutmeg or 80% light intensity). The treatmen with corn could give income in the third months. Production of corn could give income was Rp. 4.750.000. and Rp. 577.800.(green bean). The treatments that have high production, i.e. patchouli+green bean (703,8 gr/plant) and patchouli between nutmeg (650,9 g/plant). For locations that have been planted with crops of nutmeg will provide considerable added value of the patchouli, Rp 6509000,-It is clear that the protected land with sufficient light intensity is still likely to be planted patchouli plant. To obtain the optimal cropping pattern, research about fertilizer and harvest time very needed. This study should be continued through 2012 for the improvement of the SOP, aspecially technology of cropping pattern of patchouli. In this study, the influence of tillage have not yet seen.

Keywords : Patchouli crops, cropping paterns.

Download ful text 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *