PENGUJIAN PRODUK KOMBINASI RHIZOBAKTERIA INDIGENUS UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYUBAKTERI DAN BUDOG NILAM

PENGUJIAN PRODUK KOMBINASI RHIZOBAKTERIA INDIGENUS UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYUBAKTERI DAN BUDOG NILAM

Nasrun, Nurmansyah dan Burhanudin

ABSTRAK

Penyakit layu bakteri dan budok merupakan penyakit paling serius pada tanaman nilam Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Penyakit layu bakteri disebabkan oleh Ralstonia solanacearum dan penyakit budog disebabkan oleh Synchytrium spp. Pengendalian hayati menggunakan Rhizobakteria Indigenus seperti Pseudomonas sp. dan Bacillus spp. Merupakan metode pengendalian alternatif yang potensial. Telah diseleksi beberapa isolat Rhizobakteria, yaitu pseudomonad fluoresen PF 19 dan PF 147 dan Bacillus spp Bc 26 yang potensial untuk mengendalikan penyakit layu bakteri dan budok pada nilam. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan produk kombinasi Rhziobacteria Indigenous untuk mengendalikan penyakit layu bakteri dan budok pada nilam. Percobaan dilakukan pada pertanaman di kebun nilam petani terserang penyakit layu bakteri dan budog di Desa Kajai dan Padang Tujuh Kabupaten Pasaman Barat Sumatera Barat. Rhizobacteria Indigenous (isolate pF 19, PF 147 dan Bc 26) diuji dalam bentuk dalam bentuk kombinasi dan tunggal. Percobaan di susun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) tiga ulangan, setiap petak pengujian tediri atas 5 tanaman. Rhziobak-teria Indigenus diaplikasikan dengan cara perendaman setek dan penyiraman pada tanaman. Tanaman nilam yang diperlakukan dengan Rhizobakteria Indigenus dapat menunda masa inkubasi muncul gejala penyakit layu bakteri dan penyakit budok. Pertum-buhan tanaman yang diperlakukan dengan perlakuan kombinasi lebih baik dibanding perlakuan tunggal. Produksi berat daun basah (694,43 – 750,22g/petak), berat kering (198,14 – 273,41g/petak), jumlah minyak nilam (4,42 – 7,36ml/petak) dan rendemen minyak nilam (2,91 – 3,20%) lebih baik dari perlakuan tunggal (berat basah daun 600,55 – 636,67g/petak, berat kering daun 163,52 – 172,22 g/petak; jumlah minyak nilam 3,05 – 4,38ml/petak dan rendemen minyak nilam 2,21–2,62%). Sebaliknya pada perlakuan kontrol tanpa rhizobakteria berat basa daun 450,20 g/petak; berat kering daun 140,10g/petak; jumlah minyak nilam 1,92 ml/petak dan rendemen minyak nilam 1,63%. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa kombinasi Rhizbakteria Indigenus dapat dianjurkan untuk mengendalikan penyakit layu bakteri dan budog nilam.

ABSTRACT

Bactrial wilt and budog disease are the most seriuos disease on patchouli plant (Pogostemon cablin Benth) discovered in the province West Sumatera, North Sumatera , and Aceh. The bacterial wilt disease is caused by Ralstonia solanaceraum and  the budog disease sp. is caused Synchytrium spp. Biological control using Rhzibacteria Indigenous such as Pseudomonad fluoresen and Bacillus spp as alternative control method. Several isolates of rhizobacteria Indigenous i.e PF 19, PF 147 and Bc 26 were potensial as biocontrol agens. The study was aimed to evaluate the rhizobacteria in controlling bacterial wilt and budok on patchouli in field condition. The experiment tested combination and individual isolates of Rhizbacteria Indigenous (isolates PF 19, PF 147 and Bc 26) in farmer’s field of patchouli plant in area endemic of bacterial wilt and budog disease in Kajai and Padang Tujuh West Pasaman West Sumatera. The experiment was arranged in a Randomized Balock Design (RBD), three replications, 5 tested plants per unit. The rhzibacteria were applied by stem dipping and plant spraying. Plants treated with Rhizobacteria Indigenous delayed the incubation periode of disease symptom. Growth of the plants treated with combination isolates produced higher leaf wet weight (694,43 -750,22g/plot), leaf dry weihgt (198,14 – 273,41g/plot), patchouli oil production (4,42-7,36ml/plot) and oil content (2,91 –3,20%). The untreated control produced leaf wet weight 450,20g/plot, leaf dry number 140,10 g/plot; patchouli oil 1,92 ml/plot , and oil content 1,63%. Application of Rhziobacteria Indigenuous is recomended for control bacterial wilt and budog disease on patchouli plant.

Download full text

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *