IDENTIFIKASI JENIS-JENIS TANAMAN BERPOTENSI SEBAGAI ELISITOR UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN JAHE TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI

IDENTIFIKASI JENIS-JENIS TANAMAN BERPOTENSI SEBAGAI ELISITOR UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN JAHE TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI

Supriadi, S. Y. Hartati, S. Rahayuningsih, N. Karyani, dan Sugianto

ABSTRAK

Penyakit layu bakteri pada tanaman jahe disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan penyakit yang sangat sulit dikendalikan, terutama karena tidak adanya varietas jahe yang tahan. Fenomena induksi ketahanan merupakan salah satu strategi untuk mengendalikan penyakit ini. Beberapa jenis elisitor, termasuk acibenzolar-S-methyl (ASM) terbukti efektif meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan R. solanacearum. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak tanaman akar kucing (Acalypha indica), sambiloto (Andrographis paniculata), dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) mengandung senyawa elisitor ketahanan pada tanaman jahe. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi potensi ekstrak tanaman dan senyawa asam salisilat sebagai elisitor penginduksi ketahanan jahe terhadap R. solanacearum. Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Tiga jenis tanaman yang pada penelitian sebelumnya berpotensi sebagai penginduksi ketahanan, yaitu akar kucing (Acalypha indica), sambiloto (Andrographis paniculata), dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) sumber elisitor. Ekstrak tanaman dibuat dengan cara maserasi dalam alkohol 95% mengikuti prosedur standar Badan POM. Ekstrak kental dilarutkan dalam alkohol 70% (5 gram eksrak dalam 3 ml alkohol 70%), kemudian diformulasikan dengan bahan pengemulsi supaya mudah dalam aplikasinya (disemprotkan dan disiramkan) pada tanaman jahe. Selain itu juga dibuat formulasi yang ditambahkan Calsium untuk meningkatkan ketahanan tanaman. Tanaman jahe diberi perlakuan eksrtak tanaman seminggu sekali sebanyak tiga kali. Seminggu kemudian diinokulasi dengan suspensi R. solanacearum dan kemudian diperlakukan dengan ekstrak tanaman satu kali lagi. Pengamatan dilakukan terhadap perkembangan gejala penyakit layu dan analisis asam salisilat dalam tanaman yang menunjukkan ketahanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak tanaman sambiloto (Andrographis paniculata)+Ca dan asam salisilat+Ca yang diaplikasikan dengan cara disiramkan pada tanah lebih efektif dalam mengurangi perkembangan penyakit layu bakteri (R. solanacearum) pada tanaman jahe dengan intensitas penyakit masing-masing sebesar 50,49% dan 43,33%, lebih kecil dibanding dengan perlakuan kontrol 76,07%. Perlakuan asam salisilat+Ca dengan dosis tinggi (5%) menyebabkan keracunan pada tanaman dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil). Hasil analisis kandungan asam salisilat dari tanaman yang masih hidup setelah diperlakukan dengan ekstrak tanaman dan diinokulasi dengan R. solanacearum juga bervariasi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa ekstrak tanaman sambiloto mengandung elisitor pemicu ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri sebanding efektifitasnya dengan perlakuan senyawa kimia asam salisilat+Ca. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mencari cara aplikasi yang mudah diserap oleh tanaman sehingga senyawa elisitor akan berperan lebih aktif pada tanaman jahe.

Kata kunci: Bakteri layu jahe, Ralstonia solanacearum, lelisitor

ABSTRACT

Bacterial wilt on ginger caused by Ralstonia solanacearum is one of the most destructive diseases in which difficult to be eradicated, mainly due to there is no ginger resistance varieties available. Therefore, induced systemic plant resistance is a strategic approach to control the disease. Various elisitors, including acibenzolar-S-methyl (ASM) is ffective to induce tomato resistance against R. solanacearum. Elisitor can also be found in certain plants. Previous study showed that akar kucing (Acalypha indica), sambiloto (Andrographis paniculata), and temulawak (Curcuma xanthorrhiza) extracts exhibit elisitor action agains bacterial wilt on ginger. This study was aimed to evaluate the potential role of plant extract and salycilic acid as elisitors against R. Solanacearum in ginger. The study was conducted in a Laboratory and a green house of The Indonesian Medicinal and Aromatic Crop Research Institute. Three plant extracts were tested, including akar kucing (Acalypha indica), sambiloto (Andrographis paniculata), and temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Plant extracts were prepared using maceration method in ethanol according to the method of Badan POM. Plant extracts were diluted in ethanol 70% and formulated by adding adjuvant to easier their application (spraying and drenching). Plant extracts were also formulated and added with Calcium to increase their activities as inducer of plant resistant. Ginger plants grown in polybags were sprayed or drenched with plant extracts three times before challenged with R. solanacearum inoculation and one time after inoculation. Parameters observed were disease development and salicylic acid content in the survived plants. The study showed that drench application of the plant extracts+Ca and salycilic acid+Ca was more effective with disease intensity of 50.48% and 43.33% lower than control treatment (76.07%). However, drench application with higher dosage (5%) caused phytotoxicity and suppress plant growth. Analysis of salicylic acid in the survived ginger plants following the inoculation with R. solanacearum revealed that salicylic acid in the ginger plants were varied. Plant extracts formulated with Calcium and salicylic acid+Ca at 5% were toxic to ginger plants and caused retarded plant growth. The result of this experiment needs to be further evaluated to ways of application to increase absorption by ginger plant to control bacterial wilt in ginger.

Keywords: Ginger bacterial wilt, Ralstonia solanacearum, elisitor.

Download full text

 

One thought on “IDENTIFIKASI JENIS-JENIS TANAMAN BERPOTENSI SEBAGAI ELISITOR UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN JAHE TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *