Launching Pencanangan Gerakan Antisipasi Kekeringan Tingkat Kabupaten di Garut

Garut, 18 Juli 2019. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) di bawah naungan Kementerian Pertanian ikut berperan aktif dalan kegiatan ”Pencanangan Gerakan Antisipasi Kekeringan tingkat Kabupaten” yang dilaksanakan di Desa Cibunar Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut. Dibuka oleh Bupati Garut H. Rudy Gunawan, SH., MH., MP., didampingi Wakil Bupati, Danrem 062 Tarumanegara, Dandim 0611 Garut Kapolres Garut dan Kepala Balittro yang diwakikan oleh Dra. Nur Maslahah, MSi serta dihadiri kurang lebih 500 orang yang terdiri dari sebagian besar kelompok tani padi, unsur TNI, Unsur Kepolisian, Aparatur Pertanian tingkat lapangan, tingkat kecamatan dan kabupaten dan para Kepala Desa yang ada di wilayah kecamatan Tarogong Kidul.

Kegiatan ini Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai musim kemarau yang akan berlangsung hingga Oktober 2019, terkait hal tersebut perlu upaya-upaya antisipasi dalam memanfaatkan lahan dan air seperti pengaturan sistim gilir giring, gerakan pompanisasi, gerakan normalisasi saluran-saluran, sehingga resiko kegagalan para petani dalam berusaha tani kurangnya air dapat terhindari.

Kabupaten Garut merupakan salah satu Kabupaten Sentra Komoditas Padi di Provinsi Jawa Barat, hal ini terlihat dari besaran luasan pertanaman padi yang ada di Kabupaten Garut serta besarnya jumlah produksi yang dihasilkan setiap tahunnya. Sebagai gambaran dari luasan pertanaman dan besaran produksi padi berdasarkan angka sementara BPS pada tahun 2018 di Kabupaten Garut adalah seluas 150.912 ha, produksi 893.549 ton dan Provitas 59,21 kw/ha.

Berbagai Program dan kegiatan untuk mendukung upaya khusus peningkatan produksi padi seperti bantuan benih, pembangunan/perbaikan jaringan irigasi, jalan usahatani, alsin pertanian termasuk alsin pengolahan dan pemasanan hasil pertanian dalam rangka meningkatkan nilai tambah masih harus kita tingkatkan dalam pelaksanaannya.

Dampak kekeringan yang terjadi saat ini sudah mengalami peningkatan yang sangat mengkhawatirkan, sampai dengan 15 Juli 2019, Tanaman padi seluas 2.075 ha yang terdiri dari ringan seluas 598 ha, sedang 627 ha, berat 353 ha, dan puso seluas 497 ha, sedangkan terancam seluas 3.912 ha tersebar di 258 desa/kelurahan dan 40 kecamatan. Luas Standing crops atau tanaman padi yang masih ada di lapangan saat ini adalah 29.881 ha, itu berarti sudah mencapai 6,9 % tanaman padi yang terkena dampak kekeringan. Dengan begitu kehilangan padi sudah mencapai 7.460 ton lebih dengan asumsi produktivitas 59,21 kw/ha, dan kehilangan secara ekonomi mencapai Rp. 41,034 milyar lebih dengan asumsi harga gabah kering giling saat ini sebesar Rp. 5.500/kg.

Harapannya dengan kegiatan pencanangan gerakan ini dapat merupakan fasilitasi terlaksananya fungsi koordinasi dan pengawasan di setiap tingkatan, baik tingkat provinsi, tingkat kabupaten, tingkat kecamatan, hingga ke tingkat desa/kelurahan dan kelompok tani. Sehingga upaya yang kita lakukan bersama ini dapat membantu para petani dari kegagalan panen akibat dampak kekeringan. (efi/balittro)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *