FGD “State of the Art Kemiri Sunan sebagai BBN dan Urgensi Pengembangannya di Lahan Pasca Tambang”

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) PUI Balittri dengan tema “State of the Art Kemiri Sunan sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN) dan Urgensi Pengembangannya di Lahan Pasca Tambang” pada hari Rabu, 20 Februari 2019 yang diwakili Kelti Pemuliaan oleh Mariana Susilowati, S.P., M.Si., Kelti Ekofisiologi Redy Aditya Permadi, S.P. dan Kelti Proteksi Tanaman Paramita Maris, S.P., M.Sc. Kegiatan ini dipandu oleh Dr. Nurazizah sebagai moderator. Materi pertama berjudul pengelolaan lahan perkebunan (menjaga kualitas dan kesuburan tanah dengan tanaman kemiri sunan) dibawakan oleh Dr. Susilo Herlambang. Materi kedua berjudul urgensi pengelolaan lahan tambang untuk tanaman industri sebagai bahan baku bahan bakar nabati oleh Dr. Mohammad Nurcholis. Pemateri pertama dan kedua adalah Dosen dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Kemiri sunan merupakan salah satu tanaman yang digunakan dalam kegiatan reklamasi degradasi lahan akibat kegiatan pertambangan. Kemiri sunan memiliki kemampuan dapat tumbuh pada lahan-lahan marginal. Selain itu juga produk kemiri sunan sangat beragam mulai dari benih sampai biodiesel. Materi ketiga berjudul penelitian dan pengembangan kemiri sunan sebagai sumber BBN di Indonesia oleh Ahli Peneliti Utama dari Balittri yaitu Ir. Dibyo Pranowo. Secara umum teknologi perbanyakan benih sunan kemiri dilakukan secara grafting. Potensi hasil kemiri sunan tergolong cukup tinggi. Kemiri sunan mulai menghasilkan pada saat berumur 4 tahun dan produksi kemiri sunan umur 8 tahun dapat mencapai 15 ton biji dengan 6-8 ton biodiesel per Ha per tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *