Pengelolaan Kebun Induk Jambu Mete di Kabupaten Muna Dalam Pola Tumpangsari Dengan Nenas

Sumber Benih jambu mete varietas Muna adalah Blok Penghasil Tinggi (BPT)/Pohon Induk Terpilih (PIT) yang berumur relatif tua. Kebun induk yang bersumber dari benih asal grafting dengan batang atas dan batang bawah dari populasi yg sama telah dibangun oleh Dinas Pertanian Kabupaten Muna di Kecamatan Parigi Sulawesi Tenggara seluas 5 hektar.

Tanaman hasil sambung tersebut sudah berumur lebih dari 3 tahun,  dan sudah berproduksi. Bentuk kanopi tanaman hasil grafting beragam antara lain setengah payung dengan cabang rebah ke tanah atau membulat dengan cabang di atas. Kanopi setengah payung potensi produksinya lebih tinggi namun cabang mudah patah/rusak. Untuk mengantisipasi masalah tersebut perlu membuang cabang yang tumbuh dekat permukaan tanah sehingga tanaman hasil grafting lebih kokoh karena lebar kanopi seimbang dengan tinggi tanaman.

Dr. Otih Rostiana pemulia dan genetika tanaman Balittro, mengungkapkan bahwa untuk memperoleh bahan tanam berupa entres, perlu dilakukan seleksi dengan seksama baik terhadap pohon induk maupun entres yang akan diambil. Kualitas entres jambu mete juga ditentukan oleh cara pengambilan, perlakuan, sortir dan pengemasan di BPT Jambu Mete sampai ke tempat tujuan. Entres jambu mete terbaik dan yang memenuhi syarat menurut SOP adalah tunas tidur/flush. Lain ladang lain belalang, lain cara lain pula tujuan. Berbeda dengan SOP, sebagian petani di Muna menggunakan entres pecah tunas. Sumber entres demikian laik digunakan apabila penyambungan dilakukan di tempat yg sama dengan sumber batang bawah. Untuk kegiatan penyediaan Benih vegetatif pada kegiatan APBN-P Balittro tetap menggunakan entres dengan tunas tidur/flush, mengingat resiko kerusakan entres pecah tunas selama pengemasan dan pengiriman cukup tinggi. Hal lain yang menarik dalam pengelolalan Kebun Induk Jambu Mete di Kab. Muna adalah keterlibatan pihak ketiga.

Upaya pemeliharaan kebun induk (KI) bukan suatu hal yg mudah, terlebih lagi apabila KI tersebut milik pemerintah karena inkontinuitas anggaran. Untuk mengoptimalkan keberlanjutan KI jambu mete Dinas Pertanian Kabupaten Muna bekerjasama dengan petani penggarap lahan dalam hal ini petani nenas. Setiap Blok dikelola oleh petani sehingga KI jambu mete terpelihara tanpa pengeluaran anggaran Pemda, petani penggarap lahan memperoleh keuntungan dari lahan garapannya (hasil penjualan nenas).

Masyarakat Muna menyebut nenas yang dikembangkan di Muna tersebut sebagai Nenas Bogor, ukurannya besar besar dan rasanya sangatlah manis dan berair. Bagaimana mungkin nenas yg besar – besar tersebut disebut nenas Bogor? padahal nenas Bogor berukuran kecil dan tidak berair. Kalau diperhatikan dari rasanya nenas Bogor di Muna mirip dengan nenas Subang. Bagaimana prosesnya nenas Subang atau nenas Bogor sampai di Muna tidak ada yang tahu, yang jelas nenas tersebut ditanam di Muna dengan ukuran buahnya jauh lebih besar dari Nenas Madu Subang.

Pengelolaan KI jambu mete di Kabupaten Muna dalam pola tumpang sari dengan nenas, dapat dijadikan sebagai model dalam pengelolaan Kebun Induk  tanaman tahunan lainnya, dalam pola tumpangsari dengan tanaman semusim non kompetitor hara.

One thought on “Pengelolaan Kebun Induk Jambu Mete di Kabupaten Muna Dalam Pola Tumpangsari Dengan Nenas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *