Protokol Perbanyakan Benih Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) Secara In Vitro

Kultur jaringan tanaman adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ (daun, petal, batang, akar, mata tunas, meristem) serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik dalam media buatan, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap (George et al., 2008).

Teknologi perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan semakin berkembang pesat setelah ditemukannya zat pengatur tumbuh dari golongan auksin di tahun 1940, dan kinetin dari golongan sitokinin di tahun 1955 serta formulasi media dasar untuk menumbuhkan berbagai jenis tanaman oleh T. Murashige dan F. Skoog di tahun 1962 (Lestari, 2008). Saat ini perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan sudah banyak diaplikasikan pada tanaman hortikultura, kehutanan dan  perkebunan.

Di Indonesia, aplikasi perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan telah dilakukan mulai tahun 1980, yang difokuskan untuk memperbanyak tanaman. Berkembangnya teknologi kultur jaringan telah banyak diaplikasikan untuk penyimpanan plasma nutfah dan perbaikan  tanaman.

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat dari famili Zingiberaceae yang potensial untuk dikembangkan. Temulawak adalah tanaman asli Indonesia, namun saat ini sudah banyak dibudidayakan di berbagai negara di dunia diantaranya Malaysia, India, Cina  dan Jepang. Temulawak dikenal dengan berbagai sebutan diantaranya di Jawa disebut temulawak, di daerah Sunda (Jawa Barat) dikenal dengan nama koneng gede, serta di Madura dikenal dengan sebutan  temu labak.

Temulawak merupakan tanaman semusim, memiliki batang semu yang tegak, berlapis-lapis yang merupakan bagian dari pelepah daun yang saling bertumpang tindih. Batang tanaman berwarna hijau atau hijau kecoklatan. Rimpang utama temulawak berbentuk bulat telur dan berwarna coklat kemerahan dengan bagian daging rimpang berwarna orange. Bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat adalah rimpangnya yang memiliki aroma yang tajam serta rasa yang pahit. Rimpang temulawak adalah bagian yang paling banyak digunakan sebagai obat dibandingkan bagian lainnya.

Selengkapnya bisa di download disini  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *