Bertukar Pengalaman Budidaya Lada dengan Vietnam

Dalam kegiatan “Invitation participate on exchange experience on breeding, propagation,and hybridization of black pepper at 9 – 14th October 2017 in Bogor, Indonesia.  Delegasi dari Vietnam yang dipimpin oleh Mr. Nguyen Tran Quyen yang juga Direktur Departemen Pertanian dan Perlindungan Tanaman dari Western Highlands Agriculture and Forestry Science Institute (WASI) in Vietnam;  didampingi oleh  Wakil Direktur,  Pepper Research and Development Center (PPRDC) Mr. Nguyen Quang Ngoc. dan Wakil Direktur,  Departemen Pertanian dan Kehutanan, Ms. Dinh Thi Nha Truc, berkesempatan mengunjungi Balittro pada 10 Oktober 2017, dan keesokan harinya rombongon melakukan kunjungan ke Kebun Percobaan Balittro di Sukamulya, Sukabumi.   Di Balittro, rombongan diterima oleh Kepala Balittro yang didampingi oleh peneliti senior, yang telah berpengalaman  bekerja dengan tanaman lada.

 Dalam presentasinya di Balittro,  Mr. Nguyen Tran Quyen, memaparkan kegiatan penelitian yang telah dan sedang dilakukan di Pepper Research and Development Center di Vietnam. Kegiatan di sana lebih terfokus pada pengelolaan lada mulai dari pembibitan hingga usaha-usaha yang telah dilakukan untuk mendapatkan cara pengendalian hama dan penyakit pada tanaman lada.

Saat sesi diskusi, beberapa peneliti dari Balittro, yaitu:  Dr N Bermawie, Prof Dr. A Kardinan,  Ir. U Daras, Dr. SR Djiwanti dan Dr Siswanto banyak menanyakan terkait dengan aspek perkembangan penelitian varietas lada di Vietnam, perkembangan penelitian penyambungan menggunakan sirih dan P colubrinum sebagai batang bawah dan produktivitas serta umur produksinya.  Sedang yang terkait dengan aspek budidaya di lapang, topik yang banyak didiskusikan mengenai penggunaan tiang panjat, dosis dan jenis pemupukan, jenis hama dan penyakit yang ada di sana, pemakaian agens hayati dan pestisida botani tidak digunakan untuk mengatasi gangguan hama-penyakit.

Dalam diskusi, Mr. Nguyen Tran Quyen menyampaikan bahwa di Vietnam, petani biasanya melakkukan panen pertama setelah lada berumur 2 tahun, dimana produksinya akan naik dan  mencapai puncak setelah berumur 5 tahun, dengan produktivitas 4-5 kg lada hitam kering per batang. Biasanya produksi akan cenderung turun setelah usia tanaman 10 tahun.  Di Vietnam, varietas lada yang ada akan dianalisa ketahanannya terhadap penyakit setelah 25 tahun sejak dilepas.  Terkait dengan penyambungan, sampai saat ini tidak dilaporkan adanya perbedaan mutu antara lada yang diperoleh dari penyambungan dengan yang tidak disambung.

Di lapang, petani di Vietnam masih banyak yang menggunakan semen yang dicor (beton) sebagai tiang penegak, karena cara ini dapat digunakan untuk menahan lada hingga lebih dari 20 tahun.   Untuk yang menggunakan tajar, kepadatan populasi tanaman berkisar 1000 batang/ha.  Pupuk kandang dan NPK juga digunakan selama pemeliharaan; yang diberikan sekitar 15-20 kg per batang. Untuk pupuk buatan, NPK (3:1:3) dosis yang diberikan sebanyak 1.600 kg/ ha yang diaplikasikan sebanyak 6 kali saat musim hujan dan 2 kali di musim kering.

Hama dan penyakit yang ada di Vietnam, serupa dengan yang terdapat di Indonesia. Agens pengendali hayati yang umum digunakan adalah Trichoderma untuk penyakit, dan Beauveria serta Metarrhizium untuk hama;  dan petani di Vietnam tidak menggaplikasikan pestisida nabati.

 

5 thoughts on “Bertukar Pengalaman Budidaya Lada dengan Vietnam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *