Beda Jajar Legowo dengan Metode Tanam Padi Biasa

PURBALINGGA – Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor,  Dr. Ir. Wiratno, M.Env. Mgt yang hadir dalam panen padi Jarwo Super Inpago Unsoed 1 dan Pencanangan Salibu Jarwo Super di Desa Karangtengah, Purbalingga, Jumat (8/9/2017) mengatakan, khusus untuk teknologi Jarwo (Jajar Legowo) super berbeda dengan metode tanam padi yang biasa dilakukan petani.

“Jarwo super tidak seperti tanam padi biasa, tetapi ada beberapa `input` teknologi,” kata Wiratno.

Wiratno mengatakan teknologi yang diterapkan adalah pemanfaatan dekomposer pada tahap penyiapan lahan, penggunaan pupuk hayati, dan penggunaan pestisida alami.

Penelitian terkait dengan pestisida alami sudah dilakukan sejak tahun 2009. “Saat ini sudah generasi ketiga dan telah diujicobakan di sejumlah daerah,” kata Wiratno.

Berdasarkan data dari Tim Peneliti KP4S Salibu Jarwo Super, beberapa varietas padi yang potensial untuk dibudidayakan secara salibu di antaranya Inpago Unsoed 1 yang telah terbukti mampu berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan padi Mekongga yang ditanam secara tanam pindah pada pertanian terpadu di Desa Gandrungmanis, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap.

Varietas padi Inpago Unsoed 1 yang dirakit oleh Prof. Dr. Ir. Suwarto, M.S dan Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D. itu memiliki ketahanan terhadap kekeringan, daya hasil yang tinggi di lahan kering maupun di lahan sawah, tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan blas leher batang ras 133, responsif organik, serta memiliki daya regenerasi lebih dari 95 persen, sehinggga potensi hasil jika dibudidayakan secara salibu dapat mendekati hasilnya pada saat dibudidayakan secara tanam pindah.

Ketua Gapoktan Sri Waluyo Tani, Desa Karangtengah, Mashuri mengungkapkan, hasil panen padi Inpago Unsoed 1 dengan metode Jarwo Super secara ubinan mencapai sekitar 7 ton per hektare akibat terserang hama wereng, sedangkan pada panen sebelumnya mencapai 9,4 ton per hektare pada tanaman yang menggunakan bioprotektor dan 7,896 ton per hektare tanpa bioprotektor.

“Produksi padi yang kami tanam menurun akibat serangan wereng. Meski serangan hama wereng tersebut bisa diatasi, namun hasil panennya menurun. Jika sebelumnya bisa 11-12 kuintal per 100 ubin, namun sekarang 8-9 kuintal per 100 ubin,” kata Mashuri.

sumber : banyumasnews.com
b
erita terkait : www.agronet.co.id dan jateng.merdeka.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *