Limbah Seraiwangi Pengganti Pakan Sapi

Salah satu kebutuhan pokok pada budidaya sapi, khususnya sapi perah adalah perhatian akan ketersediaan pakan hijauan yang memadai. Untuk sentra sapi perah di daerah Lembang keterbatasan lahan dalam penyediaan pakan hijauan ternak merupakan masalah yang serius. Banyak pengusaha sapi perah khususnya di daerah Lembang untuk memenuhi pakan hijauan ternaknya harus keluar daerah seperti Subang dan Purwakarta. Akan tetapi kendalanya sangat jauh dan memakan biaya yang cukup tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut, khususnya di daerah sekitar Lembang Jawa Barat dalam pengadaan pakan ternak sapi perah adalah dengan

pembuatan silase dari jerami padi, tetapi jerami padi tidak tersedia setiap saat, maka juga akan menjadi kendala. Di Kebun Percobaan Manoko Lembang ada kebun tanaman seraiwangi  dan penyulingan yang sesuai de-ngan SOP (Standar Opera-sional Prosedur).

Seraiwangi bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi pe-rah dengan cara pembuatan HAI atau silase dan bisa juga langsung diberikan ke ternak setelah penurunan limbah dari ketel.

Dalam hal penyediaan pakan ternak khususnya pada sapi perah. Ketersediaan pakan yang cukup memadai sangat diperlukan yaitu dengan pembuatan silase. Ternak sapi hanya mau secara langsung memakan limbah yang baru keluar / turun dari ketel penyulingan, karena bila sudah mengering sapi kurang suka sehingga limbah tersebut banyak tersisa/terbuang tidak dimakan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dibuatkan HAI atau silase dengan bahan baku limbah penyulingan daun seraiwangi dengan cara sebagai berikut :

Daun seraiwangi yang sudah dilayukan / dijemur 1 hari dengan berat 700 kg dimasukkan ke dalam alat suling setelah 2 jam penyulingan dihasilkan limbah. Limbah sisa penyulingan dari ketel penyulingan dijemur. Agar tidak banyak air yang dikandung sebaiknya limbah dirajang atau dipotong-potong menjadi 3 sampai 4 potong.Pencampuran silase atau tetes tebu disiramkan de-ngan sprayer atau embrat hingga merata. Dimasukan pada kantong plastik atau tempat yang tertutup sehingga anaerob, tidak berhubungan dengan udara luar/kedap udara. Dibiarkan selama 10 sampai 14 hari. Kemudian dibuka, dikeluarkan dan dilihat apabila tidak berjamur silase tersebut berarti sudah jadi atau masak, bagus harum-nya, cukup wangi dan tidak apek atau bau, dan siap untuk dikonsumsi oleh ternak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *